Kisah Petugas Ruang Isolasi Corona, Susah Makan dan Dikucilkan

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis memegang masker snorkling yang akan digunakan pada pasien positif virus corona atau Covid-19 di unit gawat darurat di klinik Ambroise Pare di Neuilly-sur-Seine, Prancis, 1 April 2020. REUTERS/Benoit Tessier

    Petugas medis memegang masker snorkling yang akan digunakan pada pasien positif virus corona atau Covid-19 di unit gawat darurat di klinik Ambroise Pare di Neuilly-sur-Seine, Prancis, 1 April 2020. REUTERS/Benoit Tessier

    TEMPO.CO, Jakarta - Kisah tenaga medis yang bertugas di ruang isolasi RSUD Marsidi Judono Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dalam merawat pasien virus corona alias COVID-19 terkadang merasakan haus, namun tidak bisa minum karena sedang berada dalam ruangan isolasi dan menggunakan baju alat pelindung diri yang lengkap.

    "Ya, memang benar itu kami tidak makan dan tidak minum selama empat jam bahkan mau kencing pun susah," kata salah seorang perawat pasien positif COVID-19 RSUD Marsidi Judono Belitung, Juliana di Tanjung Pandan, Kamis 2 April 2020.

    Menurut dia, guna mengantisipasi rasa haus dan lapar biasanya akan makan dan minum terlebih dahulu sebelum jadwal bertugas merawat pasien COVID-19 di rumah sakit tersebut.

    "Saya makan dan minum biasanya sebelum jadwal tugas karena nanti empat jam di ruangan itu tidak boleh keluar sampai pergantian jadwal teman lain karena APD nya ini digunakan untuk sekali pakai," ujarnya.

    Sedangkan waktu kerja merawat pasien COVID-19 adalah empat jam dan akan dilakukan secara bergantian dengan rekan sesama perawat lainnya.

    Ia menambahkan, selain menahan lapar dan haus, tantangan lainnya ketika merawat pasien COVID-19 adalah menggunakan baju APD yang cukup berat dan berlapis sehingga harus penuh ketelitian dan kehati-hatian ketika menggunakannya.

    "Karena menggunakan baju APD harus berhati-hati benar karena memakainya saja berat dan panas dan biasanya kalau kita pakai baju biasa kan lebih enak memakainya," katanya.

    Ia sempat cemas ketika harus merawat dan berhadapan dengan pasien COVID-19, namun rasa itu mampu dikalahkan karena ini adalah bagian dari tugas dan tanggung jawab.

    "Rasa cemas ada karena kami punya keluarga di rumah. Tetapi ini namanya tugas dan kami sudah disumpah siap ditempatkan di mana saja jadi kami terima," ujarnya.

    Sementara itu, Kepala Instalasi Rawat Inap RSUD Marisidi Judono Belitung, Ety Hastuti mengatakan para tenaga medis memiliki risiko paling tinggi terpapar COVID-19 karena mereka berada di garda terdepan dan berhadapan langsung dengan pasien.

    Ety mengatakan sebelum kontak dengan pasien, kawan-kawan perawat harus sehat dulu kemudian mereka mengikuti anjuran sesuai prosedur yang telah ditetapkan."Misalnya dalam pemakaian APD," katanya.

    Kemudian, para tenaga medis juga diharapkan menggunakan APD harus sesuai aturan dan urutan karena jika ada yang salah urutannya maka akan menimbulkan infeksi silang.

    "Yang terpenting bagi kawan-kawan perawat ini adalah dukungan, jangan dikucilkan karena banyak stigma tenaga medis dijauhi, dikucilkan, bahkan dirundung," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.