Ramai Uji Masker dengan Tiup Api, Ini Kata Ahli

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi masker kain. ANTARA/Anindira Kintara

    Ilustrasi masker kain. ANTARA/Anindira Kintara

    TEMPO.CO, Jakarta - Banyaknya pengusaha yang menjual masker membuat orang-orang ingin membuktikan keefektivitasannya. Baru-baru ini, video yang tersebar di media sosial tentang uji kelayakan masker pun mulai menjadi rujukan masyarakat.

    Caranya cukup mudah, Anda tinggal menggunakan masker dan meniup api. Apabila api mati, artinya masker tidak efektif melindungi diri karena udara tidak tersaring sempurna. Sebaliknya, apabila api tidak mati, maka masker pun bisa menangkal partikel terkecil dari mikroorganisme.

    Namun, benarkah teknik tersebut digunakan untuk menguji kelayakan masker? Akademisi dan Praktisi klinis Ari Fahrial Syam pun tidak menyetujui hal itu. “Hoaks lah itu. Sudah pasti hoaks,” katanya saat dihubungi Tempo.co pada Kamis, 2 April 2020.

    Ari menjelaskan bahwa tidak ada yang bisa dilakukan masyarakat untuk melakukan pengujian terhadap masker. Sebab, masker bukanlah senyawa atau zat kimia yang dapat di tes. “Kecuali kalau boraks. Kita tahu itu senyawa kimia sehingga bisa dites lewat laboratorium. Kalau masker tidak bisa. Dia bentuknya benda,” katanya.

    Meski tak bisa diuji, masyarakat pun tetap bisa berjaga-jaga dengan mendapatkan masker yang pasti efektif. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu mengatakan bahwa caranya adalah dengan membeli langsung di toko obat atau supermarket. “Karena sudah pasti brand-nya jelas ada juga nomor Badan Pengawas Obat dan Makanan sehingga resmi diawasi pemerintah,” katanya.

    Sebaliknya, Ari juga mengimbau agar masyarakat tidak terpancing dengan membeli masker yang beredar luas di media sosial dan Whatsapp Group. Sebab di saat pandemi corona alias Covid-19 ini, banyak pihak tak bertanggung jawab yang berusaha meraih keuntungan. “Kalau tidak resmi, takutnya mereka hanya memperkaya diri dan tidak memperhatikan masker yang dijual. Itu yang bahaya,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.