Peneliti Ungkap Mata Merah Termasuk Gejala COVID-19, Benarkah?

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi mata. tracyandmatt.co.uk

    ilustrasi mata. tracyandmatt.co.uk

    TEMPO.CO, Jakarta - Memahami gejala virus corona memang harus dilakukan sejak dini sebab COVID-19 bisa menyerang orang-orang di sekitar dengan sangat cepat. Salah satu dampak buruk dari komplikasi virus tersebut adalah kematian.

    Selain sakit tenggorokan, batuk, demam dan kesulitan bernapas, mata merah bisa menjadi tanda seseorang mengidap COVID-19. Melansir dari situs Business Insider, sebuah penelitian terbaru pun mengungkapkan bagaimana konjungtivitis atau mata merah masuk dalam kategori pasien positif virus corona.

    Studi dari American Academy of Ophthalmology pada 31 Maret 2020 menunjukkan bukti dari tiga laporan anekdotal dari pasien COVID-19. Pertama, datangnya dari Journal of Virology. Pada penelitian tersebut, satu dari 30 pasien virus corona memiliki mata merah dan 29 lain mengalami sekresi mata.

    Sedangkan studi lain yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine menemukan bahwa sembilan dari 1.099 pasien yang dites positif COVID-19 di laboratorium memiliki mata merah. Terakhir, perawat di Washington, Amerika Serikat, mengatakan banyak pasien positif corona yang ditanganinya mengalami keluhan mata merah.

    Tak heran, ini pun menjadi pengingat bahwa mata merah tidak boleh disepelekan. Terlebih jika digabungkan dengan gejala penyerta yang sering dipahami masyarakat luas. Apalagi, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Amerika Serikat sudah menetapkan bahwa virus dapat masuk lewat mata sehingga gejala pada indera penglihatan seperti kemerahan wajib menjadi perhatian.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemenag Berikan Pedoman Berkegiatan di Rumah Ibadah saat Pandemi

    Kementerian Agama mewajibkan jemaah dan pengurus untuk melaksanakan sejumlah pedoman ketika berkegiatan di rumah ibadah saat pandemi covid-19.