Jenis Kain yang Disarankan Ahli untuk Membuat Masker Sendiri

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Masker dain karya desainer Myrna Myura. (Instagram/@myrnamyura)

    Masker dain karya desainer Myrna Myura. (Instagram/@myrnamyura)

    TEMPO.CO, Jakarta - Dalam menangani penyebaran virus corona, pemerintah mengimbau semua orang untuk menggunakan masker. Adapun, yang disarankan adalah masker kain sedangkan masker bedah dan N95 hanya diperuntukkan bagi petugas kesehatan.

    Berbicara tentang masker kain, setiap orang pun bisa membuatnya sendiri di rumah. Namun, kain jenis apa yang terbaik dalam melindungi diri selama wabah COVID-19? Melansir dari situs NBC News, sebuah penelitian terbaru yang dikerjakan oleh Wake Forest Institute for Regenerative Medicine pun menguji beberapa jenis kain.

    Masker-masker kain tersebut dites menggunakan pemompa udara. Udara yang disalurkan pun setara dengan partikel 0,3 mikron alias seukuran virus besar.

    “Kami ingin melihat apakah ada jenis kain tertentu yang tidak hanya memudahkan pengguna saat bernapas tetapi juga menyaring partikel-partikel seperti virus,” kata pemimpin penelitian Scott Segal.

    Setelah pengujian dilakukan, Segal mengatakan bahwa seluruhnya nyaman untuk bernapas. Namun, ada perbedaan dari segi penyaringan, di antaranya ada beberapa kain yang hanya mampu menyaring satu persen partikel. Tapi ada pula yang 79 persen sehingga berada di antara masker bedah 62 persen dan N95 yang mampu menangkal 95 persen partikel.

    Kain yang dimaksudkan terbuat dari dua lapis katun quilt dengan jumlah jahitan setidaknya 180 benang. Umumnya, ia juga memiliki tenunan yang lebih tebal dan lebih rapat dari jenis kain lain.

    “Apabila kesulitan mencari kain jenis ini, kain berkualitas lebih rendah juga bekerja dengan baik asalkan memiliki lapisan internal berupa flanel,” jelasnya.

    Sementara, melansir dari situs Today.com, studi tahun 2013 yang diterbitkan dalam jurnal Disaster Medicine and Public Health Preparedness juga menyetujui kain serupa. Pengujian telah membuktikan bahwa kain yang tipis, mudah tembus jika dihadapkan matahari, seperti kaus harian tidak disarankan dalam menghalau mikroorganisme.

    “Menggunakan kain tenun yang rapat lebih dianjurkan,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.