Tingkatkan Literasi Buah Hati, Kebutuhan Buku Cerita Anak Naik

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah anak-anak membaca buku dalam bus perpustakaan keliling di Kabul, Afganistan, 2 Juli 2019. REUTERS/Mohammad Ismail

    Sejumlah anak-anak membaca buku dalam bus perpustakaan keliling di Kabul, Afganistan, 2 Juli 2019. REUTERS/Mohammad Ismail

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemenang harapan dalam sayembara cerita anak yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta 2019, Andi Saddam Khusein mengangkat cerita dengan tokoh seorang anak bernama Alex alias Mamad dalam cerita berjudul Bocah-bocah Bekasi. Cerita itu terinspirasi dari kehidupan anak-anak di Bekasi yang menjadi wilayah akulturasi dari berbagai suku dan agama.

    Dalam cerita itu, Alex, yang berusia lima tahun, digambarkan mengalami pertengkaran dengan teman-temannya karena perbedaan pilihan dalam pemilihan kepala desa. “Saya akrab dengan karakter anak-anak Bekasi sehingga tidak kesulitan. Intinya, ada refleksi pengalaman saya,” ujar Andi yang asli orang Bekasi.

    Andi mengatakan kedekatan pengalaman inilah yang mempermudah penulisan cerita. Ia juga banyak terilhami novel Di Tengah Keluarga karya Ajip Rosidi dan Si Doel Anak Djakarta karya Aman Datuk Madjoindo. “Saya banyak terinspirasi gaya berceritanya.”

    Meski beberapa kali mengalami penolakan dari penerbit, dia pun meyakini bahwa geliat buku cerita untuk anak-anak akan mendapat tempat di masyarakat. Ia menganggap kebutuhan orang tua untuk meningkatkan literasi anak-anaknya juga akan meningkat.

    Keyakinan Andi bukan tanpa alasan. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2019, indeks aktivitas literasi membaca nasional hanya berada pada angka 37,32 persen atau berada di level rendah. Masih jauh dari angka literasi tinggi yang mematok angka di atas 60 persen. Angka ini didapatkan dari berbagai faktor, seperti kecakapan membaca, akses, alternatif, dan kebudayaan daerah. DKI Jakarta menjadi daerah dengan indeks literasi tertinggi dengan 58,16 persen.

    Di samping rendahnya angka literasi membaca, buku cerita anak ternyata memiliki panggung khusus di masyarakat pembaca. Berdasarkan data Komite Buku Nasional, genre buku anak berada di peringkat kedua dengan penjualan buku terbesar di Indonesia. Pada 2018, dari 34,7 juta buku yang terjual, sebanyak 4,4 juta buku yang terjual adalah buku anak. Sedangkan buku novel berada di peringkat teratas dengan penjualan sekitar 6,4 juta buku.

    Ketua Yayasan Tujuhbelasribu Pulau Imaji, Laura Bangun Prinsloo, mengatakan pangsa pasar untuk buku anak masih menjanjikan di tengah lesunya dunia perbukuan. Bahkan, meski masih relatif kecil, dia menjelaskan, saat ini semakin banyak buku anak yang menembus pasar internasional dan beberapa ilustrator turut berperan menggarap buku-buku terbitan luar negeri. “Dengan adanya teknologi, knowledge sharing semakin mudah seperti melalui komunitas menulis online yang semakin banyak,” kata praktisi penerbitan ini.

    Laura, yang juga mantan Ketua Komite Buku Nasional, mengatakan buku anak pun semakin gencar dipasarkan secara online dan melalui banyak platform. Di samping itu, penulis sudah menggarap tren cerita yang menggunakan tokoh manusia atau manusia super ketimbang tokoh binatang untuk buku anak. “Semakin relate dengan cerita sehari-hari atau dengan superbeing yang membuat anak berimajinasi.”

    Meski menghadapi kendala biaya pengembangan karena lebih mahal ketimbang buku konvensional, ia memprediksi penjualan podcast atau audio book akan meningkat tajam di masa mendatang.

    KORAN TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.