Pandemi COVID-19, Perlunya Perhatian pada Kesehatan Jiwa Anak

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak depresi/murung. Shutterstock.com

    Ilustrasi anak depresi/murung. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Psikiater dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) dr Lahargo Kembaren, Sp.KJ mengatakan dalam kondisi pandemi COVID-19 saat ini perlu memberikan perhatian pada kesehatan jiwa anak dan remaja. Ia menyarankan setiap orang tua untuk selalu hadir bila anak membutuhkan dan terus menjalin komunikasi yang baik.

    Orang tua juga harus memberikan kenyamanan kepada anak dengan melakukan berbagai kegiatan atau aktivitas yang produktif.

    "Kesehatan jiwa anak remaja perlu dapat perhatian, orang tua harus selalu hadir dengan kesungguhan hati. Pastikan anak terhubung dengan teman dan keluarga, buat nyaman dengan kegiatan atau aktivitas produktif. Menjaga kesehatan jiwa anak juga penting, langsung periksakan ke tenaga profesional kesehatan jiwa bila dibutuhkan," kata Lahargo.

    Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan, Fidiansjah, mengatakan rentang stres yang dialami seseorang berbeda-beda dan memiliki skala timbulnya gejala yang luas. Pada beberapa kasus ringan masih dapat dikelola dengan bercerita kepada orang lain, namun pada kasus tertentu sudah harus ditangani oleh tenaga profesional dan konsumsi obat-obatan.

    "Pada kasus tertentu harus ditangani tenaga profesoinal, harus makan obat karena kerusakan sudah terjadi dari tubuh, tidak sekadar pikiran. Ini perlu ke psikiater untuk mendapatkan obat untuk meningkatkan lagi daya tahan terhadap situasi dan mengelola emosi," kata Fidiansjah.

    Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah menyediakan layanan konsultasi kesehatan jiwa dengan menghubungi pusat layanan telepon terkait COVID-19 di 119 pada ekstension 8. Masyarakat yang mengalami masalah kecemasan atau kesehatan jiwa lain bisa menghubungi pusat layanan telepon tersebut untuk pendampingan kesehatan jiwa.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.