Dianggap Solusi, Ini Plus Minus Diterapkannya Herd Immunity

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi virus Corona atau Covid-19. Shutterstock

    Ilustrasi virus Corona atau Covid-19. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Status pandemi Covid-19 telah diiringi dengan berbagai cara untuk mengatasinya. Salah satu solusi yang tengah menjadi perhatian publik kali ini ialah herd immunity. Apa itu?

    Melansir dari situs Health, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Amerika Serikat menjelaskan bahwa herd immunity adalah suatu kondisi dimana masyarakat dapat secara kolektif mencegah infeksi. Ini terjadi jika sebagian besar populasi memiliki kekebalan terhadap suatu penyakit.

    Adapun dalam penerapannya, masyarakat diperbolehkan untuk melakukan aktivitas seperti biasa. Memang ini meningkatkan risiko untuk terjangkit virus, namun tujuan utamanya ialah agar tubuh yang terinfeksi dapat mereplikasi patogen virus.

    Kondisi ini kemudian dianalisis oleh sistem kekebalan tubuh sehingga nantinya bisa memberikan respon berupa perlawanan dari penyakit serupa. “Tentunya ini merupakan poin positif dari keberhasilan herd immunity dalam menghentikan penyebaran penyakit,” kata ahli virologi asal Inggris Jeremy Roseman.

    Namun dari sisi negatif, herd immunity sangat membahayakan. Roseman mengatakan bahwa ini bisa meningkatkan angka kematian akibat membludaknya pasien di rumah sakit. Sebab, kondisi fisik setiap orang dalam menghadapi infeksi berbeda-beda.

    “Ketika dibuat uji coba seluruh orang berisiko terjangkit virus corona, kita tidak pernah tahu kondisi fisik mereka. Jika tidak kuat terlebih lansia, dokter di rumah sakit akan kerepotan untuk memberi penanganan. Akibatnya angka kematian ikut meroket tinggi,” katanya.

    Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga tidak merekomendasikan herd immunity sebagai solusi dari pandemi Covid-19. Melansir dari situs Business Insider, penelitian telah membuktikan efektivitas herd immunity akan virus corona di New York, Amerika Serikat.

    Terbukti bahwa tidak lebih dari lima persen pasien Covid-19 berhasil mengembangkan antibodi. Sementara 95 persen lainnya dipastikan meninggal dunia. “Konsep herd immunity bukanlah solusi yang baik,” kata direktur eksekutif WHO, Mike Ryan.

    SARAH ERVINA DARA SIYAHAILATUA | HEALTH.COM | BUSINESSINSIDER


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Benarkah Ada Jam Makan Yang Bikin Gemuk?

    Banyak cara untuk membuat berat badan menjadi ideal, contohnya waktu makan. Namun makan di jam yang salah bisa bikin gemuk.