Survei Sebut Bekerja dari Rumah Tetap Produktif

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bekerja dari rumah. Shutterstock

    Ilustrasi bekerja dari rumah. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah survei yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kementerian Ketenagakerjaan, dan Universitas Indonesia mengungkapkan sebanyak 78 persen pekerja mengaku tetap produktif meskipun bekerja dari rumah atau work from home.

    "WFH tidak berpengaruh terhadap produktivitas karena 78 persen pekerja yang WFH menyatakan tetap produktif," kata peneliti dari Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Ngadi.

    Dari 1.213 responden yang diteliti terdapat 64 persen yang menyatakan bekerja dari rumah. Para responden itu terdiri dari 54,3 persen laki-laki dan 45,7 persen perempuan. Responden itu terdiri dari 23,9 persen yang tinggal di desa dan 76,1 persen yang tinggal di kota.

    Dengan melihat masih banyak yang bisa menjaga produktivitas selama bekerja dari rumah, Ngadi menuturkan dalam jangka panjang WFH masih bisa terus diberlakukan, terutama sebelum pandemi COVID-19 berakhir.

    Meskipun demikian, WFH akan berpengaruh terhadap pola konsumsi dan mobilitas pekerja yang berpengaruh terhadap berjalannya perekonomian masyarakat, terutama sektor jasa transportasi, perdagangan, dan makanan.

    Ngadi mengatakan pengangguran dan orang yang mengalami penurunan pendapatan akan bertambah karena pandemi COVID-19, untuk itu berbagai kebijakan dari pemerintah seperti bantuan sosial dan Kartu Pra-kerja harus dipastikan agar sampai kepada mereka. Dia menuturkan para korban pemutusan hubungan kerja (PHK) tidak boleh luput dari bantuan yang sudah disiapkan, karena mereka sangat membutuhkan untuk membantu bertahan hidup.

    Sektor-sektor terparah yang perlu menjadi perhatian khusus adalah konstruksi, perdagangan, rumah makan, jasa, transportasi, pergudangan, dan komunikasi. Dia juga merekomendasikan keselamatan jiwa tetap harus diutamakan sehingga protokol kesehatan, termasuk pembatasan sosial berskala besar (PSBB) harus tetap dijaga dengan baik hingga pandemi COVID-19 dapat berakhir.

    Tanpa melonggarkan PSBB perlu dipikirkan strategi untuk menghidupkan ekonomi, artinya protokol kesehatan tetap berlaku tapi roda ekonomi di beberapa sektor dapat lebih dihidupkan. Sebagai contoh, pedagang di Salatiga tetap berdagang tetapi mereka menjaga jarak antarlapak dan pengunjung tetap menggunakan standar kesehatan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.