Yang Perlu Dilakukan Masyarakat di Era New Normal Menurut Pakar

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi antrean berjarak. REUTERS/Kham

    Ilustrasi antrean berjarak. REUTERS/Kham

    TEMPO.CO, Jakarta - Pandemi Covid-19 akan mempengaruhi budaya dan laku hidup manusia. Pemerintah dan segenap elemen masyarakat mesti menyesuaikan diri dengan baik dan buruknya kehidupan yang disebut new normal atau kenormalan baru ini.

    Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI), Tri Yunis Miko Wahyono, memprediksi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Jilid III, yang berlaku pada 22 Mei-4 Juni 2020, belum akan jadi PSBB terakhir.

    "Patokannya paling tidak sampai terlihat adanya penurunan tren harian kasus baru Covid-19 di bawah angka 10 sehingga benar-benar bisa diisolasi dan tak menyebar lagi. Sekarang ini baiknya fokus evaluasi ke tempat-tempat klaster lokal penularan," ungkapnya.

    Oleh sebab itu, Miko menyarankan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus membiasakan dan mengakomodasi masyarakat terhadap kehidupan dengan kenormalan baru tersebut selama PSBB berlangsung.

    "Masyarakat harus sudah terbiasa dengan protokol kesehatan seperti memakai masker dan cuci tangan dengan sabun, walaupun Covid-19 dan PSBB nantinya sudah berakhir," tambahnya.

    Pusat perbelanjaan modern seperti mal dan pasar swalayan, pasar, lapak-lapak pedagang kaki lima (PKL), dan tempat-tempat potensial terhadap kepadatan masyarakat perlu segera diberikan perhatian khusus. Tugas pemerintah untuk mengajak pedagang bicara, mengakomodasi penempatan yang layak dan sehat, bersih, menjaga jarak, juga mendorong pembayaran nontunai.

    Selain tempat-tempat pemenuhan kebutuhan hidup, sektor perkantoran dan tempat usaha juga pasti akan mengubah budaya kerja. Perkantoran harus tetap menjaga protokol pengecekan suhu tubuh, menjaga jarak dalam ruangan, dan perhatian lebih terhadap kesehatan karyawan sebagai upaya pencegahan. Sementara, warung makan dan restoran masih perlu memprioritaskan pesan bawa pulang, menghindari kepadatan orang yang makan di tempat.

    Di samping itu, masyarakat pun perlu terbiasa menggunakan masker, mandiri mempersiapkan kantong sendiri ketika berbelanja, bahkan wadah makanan-minuman yang higienis apabila diperlukan. Tempat usaha juga bisa didorong menyediakan hal tersebut demi menjaga protokol kesehatan yang bukan hanya untuk mencegah Covid-19, tetapi juga mengarah ke tingkat kesadaran akan kesehatan tubuh dengan lebih baik.

    "Karena sebenarnya suksesnya PSBB itu indikatornya bukan hanya data epidemiologis tapi kepatuhan dan kesadaran masyarakat juga sehingga evaluasi kegiatan masyarakat, kepadatan jalan, pelanggaran aturan, itu harus terus diawasi demi membiasakan masyarakat," tandasnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Benarkah Ada Jam Makan Yang Bikin Gemuk?

    Banyak cara untuk membuat berat badan menjadi ideal, contohnya waktu makan. Namun makan di jam yang salah bisa bikin gemuk.