Jengkel pada Menteri, Simak Arti Bahasa Tubuh Jokowi

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (kedua kanan) bersama Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy (kiri), Direktur Utama PT Pos Indonesia Gilarsi W Setijono (kedua kiri) dan Menteri Sosial Juliari P Batubara (kanan) memberikan keterangan kepada wartawan usai meninjau penyerahan Bantuan Sosial Tunai (BST) di Kantor Pos Bogor, Jawa Barat, Rabu 13 Mei 2020. Presiden mengecek penyaluran BST kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Kota Bogor dan berharap dengan adanya bantuan sosial ini bisa memperkuat daya beli masyarakat hingga nanti konsumsi domestik Indonesia menjadi normal kembali. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah

    Presiden Joko Widodo (kedua kanan) bersama Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy (kiri), Direktur Utama PT Pos Indonesia Gilarsi W Setijono (kedua kiri) dan Menteri Sosial Juliari P Batubara (kanan) memberikan keterangan kepada wartawan usai meninjau penyerahan Bantuan Sosial Tunai (BST) di Kantor Pos Bogor, Jawa Barat, Rabu 13 Mei 2020. Presiden mengecek penyaluran BST kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Kota Bogor dan berharap dengan adanya bantuan sosial ini bisa memperkuat daya beli masyarakat hingga nanti konsumsi domestik Indonesia menjadi normal kembali. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Pakar bahasa tubuh dan mikroekspresi, Monica Kumalasari menganalisis bahasa tubuh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara Jakarta pada 18 Juni 2020 yang videonya dirilis, Minggu 28 Juni 2020. Dalam sidang tersebut, Jokowi memberikan teguran keras dan meluapkan kejengkelan karena belum ada kemajuan signifikan dari kinerja jajarannya selama tiga bulan terakhir.

    Saat marah itu, Jokowi mengatakan ia bisa saja melakukan reshuffle atau membubarkan lembaga. Monica mengatakan, Jokowi bicara secara spontan tanpa teks selain mungkin catatan berisi poin-poin catatan pribadinya. "Akan mengekspresikan perasaan seseorang secara lebih genuine," kata Monica di Jakarta, Senin 29 Juni 2020.

    Monica menganalisis gestur Jokowi berdasarkan lima kanal, yakni raut wajah, bahasa tubuh, suara, gaya verbal dan konten.

    Dari ekspresi wajah yang bersifat universal, Monica menganalisis raut presiden sepanjang pembicaraan memperlihatkan banyak kesedihan yang terlihat dari gerakan alis dan bibirnya. "Kemudian juga ada fear, rasa takut, kemudian yang paling dominan mengenai emosi marah," kata dia.

    Emosi marah, kata Monica, sangat terlihat di awal meski presiden mencoba tetap tenang. Emosi itu terlihat dari bibir yang terlipat dan alis matanya. Ekspresi itu jelas terlihat saat presiden mengatakan 'Ini sudah tiga bulan ke belakang dan bagaimana tiga bulan ke depan', 'Tidak ada progres secara signifikan' juga 'Ini saya pertaruhkan reputasi politik saya'. "Di awal-awal video ini Pak Jokowi juga banyak mengatakan'kita memiliki perasaan yang sama', pernyataan itu lebih dari empat kali dikatakan Jokowi. Saya menganalisa bahwa ini cara beliau mengatakan 'Hei kenapa para menteri ini tidak berempati'," kata Monica.

    Monica juga melihat ada ekspresi merendahkan yang sejalan dengan frase 'Kita harus memiliki perasaan yang sama' yang diucapkan berulang-ulang. Jokowi terlihat geram karena para menteri tidak memiliki empati yang sama. Dari bahasa tubuh, Jokowi menekankan apa yang ia katakan lewat gerakan. Ada gerakan-gerakan menunjuk dan menekan untuk menggarisbawahi apa yang ia ucapkan. "Ada punctuation, seperti 'saya menggarisbawahi', saya juga melihat bahasa tubuhnya ada seperti memukul podium, walau tidak secara harafiah memukul, tapi ada gerakan tangan yang sampai kayak gemetar, yang mendukung kata-kata yang dikatakan beliau."

    Dalam hal suara, ada suara yang lebih rendah dan pelan, menunjukkan rasa kesedihan dan tidak yakin. Juga ada pitch suara yang meninggi seperti sudah berteriak yang menunjukkan kemarahan memuncak.

    Dari sisi gaya verbal, Jokowi banyak mengulang kata 'krisis', '267 juta rakyat', 'biasa-biasa saja' dan 'extraordinary'. "Kata ini menunjukkan analisa bahwa kondisi ini tidak biasa tapi 'kenapa Anda semua para menteri menganggap ini suasananya normal dan biasa saja'," kata Monica.

    Sementara dari sisi konten keseluruhan, ada jeda sepuluh hari dari pelaksanaan sidang hingga diunggahnya video yang mengatakan Jokowi mungkin akan melakukan reshuffle atau membubarkan lembaga, di mana departemen yang banyak disinggung adalah kesehatan serta ekonomi. "Saya menganalisa bahwa dalam waktu sepuluh hari, kemudian baru dirilis, analisa saya adalah benar beliau akan melakukan hal ini," katanya.

    "Dan kemarin minggu sore sudah dinyatakan, jadi konten ini adalah pengantar bahwa beliau akan mengeluarkan kebiakan-kebijakan yang baru atau melakukan reshuffle maupun membubarkan lembaga," kata dia.

    Deputi Bidang Protokol, Pers dan Media Sekretariat Presiden Bey Triadi Machmudin saat dikonfirmasi, Minggu 28 Juni 2020 mengatakan awalnya Sidang Kabinet Paripurna tersebut bersifat intern. "Namun setelah kami pelajari pernyataan Presiden, banyak hal yang baik, dan bagus untuk diketahui publik, sehingga kami meminta izin kepada Bapak Presiden untuk mengunggahnya. Makanya baru dirilis hari ini," kata Bey.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    11 Manfaat Ubi Jalar untuk Kesehatan

    Banyak yang tidak mengetahui bahwa ubi jalar yang dianggap remeh ternyata banyak mempunyai manfaat. Berikut sejumlah manfaat ubi jalar.