Pandemi COVID-19 Bikin Terlambat Vaksin? Ini Tips Dokter

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi vaksinasi (Pixabay.com)

    Ilustrasi vaksinasi (Pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Anak-anak tetap harus mendapatkan vaksinasi sesuai jadwal sekalipun di masa pandemi COVID-19 dan normal baru seperti saat ini. Jika terlambat, orang tua dianjurkan memberikan vaksin susulan agar anak mendapatkan kekebalan tubuh.

    "Vaksin tetap boleh disusulkan apabila terlambat karena anak belum memiliki kekebalan dari vaksin. Apabila ada vaksin yang belum diberikan, segera disusulkan supaya anak tetap mendapatkan kekebalan yang diberikan vaksin," ujar dokter spesialis anak RS Pondok Indah - Bintaro Jaya, Caessar Pronocitro dalam Webinar "Pentingnya Vaksinasi untuk Anak", Rabu 1 Juli 2020.

    Kalau vaksin yang terlambat sifatnya serial seperti DPT 1, 2, 3, misalnya salah satunya terlambat maka anak tidak perlu lagi mengulang dari awal, cukup dilanjutkan.

    Anda bisa segera berkonsultasi ke dokter anak untuk menentukan pemberian vaksin yang terlebih dulu menurut jadwal atau kondisi tertentu yang mendesak. "Bisa dari urutan, misalnya anak sudah berusia 3,5 tahun vaksin untuk 9 bulan belum diberikan, tentu kalau berdasarkan kronologi, kami berikan dari yang seharusnya paling awal, dimulai dari yang 9 bulan dulu, 12 bulan, 15 bulan dan 24 bulan," kata Caessar.

    Pertimbangan lainnya, kondisi mendesak atau tingkat kepentingannya. Vaksin campak yang seharusnya diberikan pada anak usia 9 bulan bisa ditunda sementara waktu karena di wilayah anak tinggal ada wabah hepatitis A. "Vaksin hepatitis A diberikan pada anak usia 24 bulan. Kalau berdasarkan kronologi kami berikan vaksin campak dulu, tetapi misalnya di daerah anak tinggal sedang ada wabah hepatitis A, tentu kami prirotitaskan vaksin hepatitis A terlebih dulu," kata Caessar.

    Ikatan Dokter Anak Indonesia merekomendasikan vaksinasi tetap diberikan sesuai jadwal, terutama untuk anak di bawah 18 bulan dan memperhatikan sejumlah hal antara lain: pengaturan jadwal kedatangan untuk menghindari kepadatan orang tua atau anak saat menunggu.

    Lalu, ada proses skrining gejala atau kontak dengan individu yang terdiagnosis COVID-19 untuk ditangani khusus. Selain itu, ada pemisahan anak sakit dan sehat di poliklinik yang berbeda, pengaturan jarak selama proses menunggu serta ada hand sanitizer atau area mencuci tangan di lokasi pemberian vaksin.

    Vaksinasi atau imunisasi yakni pencegahan primer penyakir dengan memasukkan antigen ke tubuh untuk memicu pembentukan kekebalan tubuh terhadap antigen tersebut. Cara ini bentuk efektif pencegahan penyakit paling efektif dan efisien sehingga telah diterapkan di seluruh dunia.

    "Vaksinasi memperkenlkan antigen supaya sistem kekebalan tubuh segera memproduksi antibodi yang spesifik dan bertahan lama. Saat terjadi infeksi, sistem kekebalan tubuh dengan cepat membentuk antibodi untuk melawan penyakit," kata Caessar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bandingkan Ledakan di Beirut dengan Bom Atom Hiroshima Nagasaki

    Pemerintah Lebanon meyakini ledakan di Beirut disebabkan 2.750 ton amonium nitrat. Banyak orang membandingkannya dengan bon atom Hiroshima Nagasaki.