Bolehkah Tunda Beri Vaksin saat Anak Batuk dan Pilek?

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • 796 Ribu Anak Ditargetkan Dapat Vaksin Polio

    796 Ribu Anak Ditargetkan Dapat Vaksin Polio

    TEMPO.CO, Jakarta - Anak tetap harus mendapatkan vaksinasi sekalipun di masa normal baru saat ini. Tetapi, ada sejumlah kondisi yang bisa membuat pemberian vaksin anak ditunda, apakah termasuk batuk dan pilek?

    "Sebenarnya kondisi batuk, pilek ringan tanpa demam bukanlah kontraindikasi untuk vaksinasi. Jadi boleh anak batuk, pilek tanpa demam diimunisasi," ujar dokter spesialis anak RS Pondok Indah - Bintaro Jaya, Caessar Pronocitro dalam Webinar, Rabu 1 Juli 2020.

    Dokter sebelumnya melaksanakan pemeriksaan terlebih dahulu untuk memastikan kondisi anak tidak dalam kondisi penyakit berat. Pada kondisi sakit berat, daya tahan tubuh sedang aktif melawan sakit itu, sehingga apabila diberikan vaksin maka daya tahan tubuh tidak akan memberikan respon cukup untuk vaksin. "Demam penanda tubuh mengalami infeksi dan berusaha lawan infeksi itu. Saat demam vaksin ditunda, kita berikan kesempatan daya tahan tubuh melawan infeksi. Untuk sakit berat, kalau diare berat misal frekuensi buang air besar cair, sering, ditangani dulu penyakitnya baru diberikan vaksinasi," papar Caessar.

    Lalu bagaimana dengan anak yang sedang mengonsumsi obat? Menurut Caessar, sebagian besar obat-obatan termasuk antibiotik tidak berpengaruh pada potensi vaksin. Anak-anak yang sedang mengonsumsi obat boleh tetap divaksinasi, namun sebelumnya dokter memeriksakan kondisi anak dulu.

    Salah satu obat yang bisa mempengaruhi potensi vaksin yakni obat penekan imunitas untuk jangka waktu lama. Khusus untuk anak yang mengonsumsi jenis obat ini, dokter akan menunda pemberian vaksin. "Kalau anak sedang mengonsumsi obat, konsultasikan dulu dengan dokter, sehingga dokter bisa memutuskan apakah (anak) ini boleh diimunisasi atau ditunda," kata Caessar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bandingkan Ledakan di Beirut dengan Bom Atom Hiroshima Nagasaki

    Pemerintah Lebanon meyakini ledakan di Beirut disebabkan 2.750 ton amonium nitrat. Banyak orang membandingkannya dengan bon atom Hiroshima Nagasaki.