ODHA Sulit Berobat saat Pandemi Covid-19, Coba Solusi Ini

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pemeriksaan HIV. ANTARA/Zabur Karuru

    Ilustrasi pemeriksaan HIV. ANTARA/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Jakarta - Pandemi Covid-19 telah memberikan dampak negatif bagi ODHA atau Orang dengan HIV/AIDS. Sebab, merebaknya virus corona dengan segala keterbatasan ruang gerak masyarakat membuat ODHA kesulitan untuk berobat. Padahal, HIV/AIDS membutuhkan pengobatan dan kontrol rutin ke rumah sakit.

    Menanggapi kebutuhan ODHA untuk berobat, Direktur P2PML Direktorat Jenderal P2P Kementerian Kesehatan Wiendra Waworuntu pun menyebutkan berbagai layanan yang bisa didapatkan ODHA. Tujuannya tentu untuk membantu ODHA tetap berobat mesti terhalang dengan pandemi Covid-19.

    Pertama dari segi kontrol, ia berharap bahwa ini bisa dikerjakan secara online. “Telemedicine telah tersedia di berbagai platform kesehatan. Salah satu masalah yang bisa direspon termasuk HIV AIDS. Jadi, ODHA tidak perlu kesulitan untuk pergi ke rumah sakit dengan risiko lagi,” katanya dalam webinar bersama Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia pada 3 Juli 2020.

    Layanan ke rumah sakit juga terbuka luas khususnya jika pasien ODHA mengalami gejala Covid-19 seperti batuk, demam, dengan gejala flu lainnya. “Pasien ODHA akan mendapatkan pertolongan yang optimal jika terjangkit Covid-19. Sampai 30 Juni 2020, setidaknya sudah ada 28 ODHA yang terjangkit Covid-19 dan semuanya kita tangani dengan baik,” katanya.

    Wiendra juga mengatakan bahwa obat ARV akan diberikan untuk stok ODHA selama dua hingga tiga bulan ke depan. Namun, ini dipertimbangkan dari ketersediaan ARV. “Kami akan secara selektif mempertimbangkan ODHA, khususnya obat diprioritaskan bagi yang tinggal di wilayah epicentrum Covid-19,” katanya.

    Terakhir, segala bentuk edukasi terkait Covid-19 juga disalurkan oleh Kementerian Kesehatan bagi ODHA. Harapannya, mereka bisa menerapkan berbagai upaya pencegahan sehingga dapat mengontrol infeksi. “Edukasi tindak preventif dan segala hal berkaitan dengan Covid-19 akan kita berikan supaya semua ODHA tetap terlindungi,” katanya.

    SARAH ERVINA DARA SIYAHAILATUA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bandingkan Ledakan di Beirut dengan Bom Atom Hiroshima Nagasaki

    Pemerintah Lebanon meyakini ledakan di Beirut disebabkan 2.750 ton amonium nitrat. Banyak orang membandingkannya dengan bon atom Hiroshima Nagasaki.