Selasa, 22 September 2020

Ramai Kalung Antivirus Corona, Cek Harganya di Pasaran

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kalung antivirus Corona. shopee

    Kalung antivirus Corona. shopee

    TEMPO.CO, Jakarta - Media sosial tengah ramai dengan isu kalung yang diklaim sebagai antivirus, termasuk virus corona. Sebelumnya, Kementerian Pertanian menyatakan bakal menggandeng PT Eagle Indo Pharma untuk pengembangan dan produksi kalung berbahan ekaliptus yang disebut bisa menangkal virus penyebab Covid-19.

    Sebelum rencana pengembangan dari Kementan ini, sebelumnya juga sudah beredar di masyarakat penjualan kalung antivirus shout out. Kalung antivirus itu bahkan dijual bebas di toko daring. Penjualan kalung ini, sudah ada sejak Maret 2020 atau ketika kasus covid-19 pertama kali muncul.

    Kalung dengan bentuk seperti kartu identitas itu dijual dengan harga beragam, dari Rp 85.000 hingga Rp 200.000. Kalung ini diklaim berasal dari Jepang dan mampu menangkal virus dengan daya tahan selama 30 hari. Cara kerjanya dengan melepaskan konsentrasi rendah klorin dioksida untuk menghilangkan kuman dan virus di udara sekitarnya dengan jarak 1-2 meter

    Ketika awal muncul, bahkan harganya bisa di atas Rp 250.000 dan banyak yang menawarkan sistem pre-order. Tapi, kini harganya mulai turun karena kemungkinan peminatnya mulai berkurang, seperti halnya harga masker yang sempat melambung beberapa waktu lalu.

    Sementara itu, kalung antivirus berbahan ekaliptus atau minyak kayu putih juga ternyata sudah beredar di pasaran. Harganya pun sangat murah, yakni Rp 35.000.

    Di salah satu e-commerce, penjual kalung menyebutkan jika kalung itu mengandung minyak kayu putih dan minyak peppermint. Sedangkan untuk kalung antivirus buatan Kementan belum diketahui akan banderolnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utak-atik Definisi Kematian Akibat Covid-19, Bandingkan dengan Uraian WHO

    Wacana definisi kematian akibat Covid-19 sempat disinggung dalam rakor penanganan pandemi. Hal itu mempengaruhi angka keberhasilan penanganan pandemi.