Pakar Sebut Tak Perlu Pakai Masker dengan Katup, Ini Alasannya

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi masker. Sumber: Reuters/asiaone.com

    Ilustrasi masker. Sumber: Reuters/asiaone.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang dokter Inggris mendesak masyarakat untuk berhenti menggunakan masker dengan katup. Dia mengingatkan hal itu dapat memicu infeksi karena aliran udara berkecepatan tinggi.

    Bharat Pankhania, dokter dan pengajar senior di Sekolah Kedokteran Universitas Exeter menjabarkan masker dengan katup memaksa aliran udara yang bisa menghasilkan gumpalan virus corona baru. Pakar itu mengatakan masker paling baik yang bisa digunakan untuk aktivitas sehari-hari adalah yang tak menggunakan katup. Peringatannya muncul karena banyak negara telah membuat aturan wajib penggunaan masker di ruang publik.

    “Kita tidak boleh memakai masker dengan klep di depan umum. Tolong, siapa saja yang ada di luar dan memakai masker dengan katup berhenti menggunakannya,” katanya, seperti dikutip Express.

    “Apa yang Anda lakukan dengan masker-masker itu adalah menciptakan aliran udara berkecepatan tinggi dari mulut yang keluar melalui katup dan bisa menciptakan segumpal infeksi. Kita harus berhenti memakai masker tersebut,” imbuhnya.

    Menurutnya, saat ini banyak orang yang menggunakan masker dengan katup di ruang-ruang publik. Dia justru menyarankan agar masyarakat menggunakan masker biasa yang bisa menangkap tetesan dari hidung dan mulut.

    Desakan dari Pankhania muncul ketika presiden Royal Society meminta semua orang memakai masker wajah untuk mengurangi risiko penularan Covid-19 dan munculnya gelombang kedua pandemi penyakit tersebut. Profesor Venki Ramakrishnan mengatakan orang harus mengenakan masker ketika meninggalkan rumah, terutama di ruang tertutup. Akan tetapi, dia juga mengakui masyarakat masih skeptis tentang manfaatnya.

    “Virus masih belum hilang. Jadi, ketika melonggarkan lockdown dan orang semakin berinteraksi satu sama lain, kita perlu menggunakan setiap alat untuk mengurangi risiko gelombang kedua infeksi,” katanya.

    “Selain mencuci tangan dan menjaga jarak, kita juga ingin semua orang mulai memakai masker, terutama di dalam ruangan atau di ruang publik tertutup di mana jarak fisik seringkali tidak memungkinkan,” paparnya.

    Ramakrishnan mengatakan Inggris sendiri berada jauh di belakang negara-negara lain dalam mengenakan masker penutup wajah, karena adanya preferensi yang berbeda-beda soal manfaat dari penggunaannya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bandingkan Ledakan di Beirut dengan Bom Atom Hiroshima Nagasaki

    Pemerintah Lebanon meyakini ledakan di Beirut disebabkan 2.750 ton amonium nitrat. Banyak orang membandingkannya dengan bon atom Hiroshima Nagasaki.