Gargling atau Berkumur di Tenggorokan, Ternyata Banyak Manfaatnya

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi berkumur. Shutterstock

    Ilustrasi berkumur. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Gargling atau berkumur di tenggorokan adalah salah satu teknik berkumur yang sering dilakukan oleh masyarakat. Umumnya, hal tersebut dikerjakan usai menyikat gigi sebagai bentuk penyempurnaan kebersihan area gigi dan mulut.

    Namun tahukah Anda bahwa manfaat dari gargling tidak hanya berhenti sampai di sana saja? Dokter Gigi Spesialis Penyakit Mulut Rahmi Amtha mengatakan bahwa masih banyak dampak positif lainnya yang bisa didapat lewat teknik berkumur hingga kerongkongan itu.

    Pertama, Rahmi menerangkan bahwa gargling bisa mencegah infeksi pada tenggorokan. Sebab secara umum, rongga mulut sering dijadikan tempat koloni mikroorganisme. “Mikroba pada rongga mulut dapat menyebabkan infeksi seperti batu amandel. Dengan gargling, masalah ini dapat diatasi,” katanya dalam webinar bersama Betadine pada 8 Juli 2020.

    Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) juga bisa ditangani lewat gargling. Rahmi mengatakan bahwa tren ISPA terus meningkat dari tahun 2016 hingga saat ini. “Kalau masyarakat rajin gargling, penelitian membuktikan bahwa gargling dengan air pada orang sehat dapat menurunkan 36 persen terjadinya ISPA,” ujarnya.

    Selain itu, gargling juga berhubungan erat dengan penurunan demam pada anak-anak. “Penelitian lain mengungkapkan bahwa gargling dengan air keran, teh hijau atau air fungsional lainnya ampuh menurunkan demam. Bahkan jika ada gejala demam, risikonya dapat dicegah,” kata Rahma.

    Untuk alasan tersebut, Rahma pun mengimbau masyarakat selalu menerapkan gargling. Ini bisa dilakukan menggunakan bahan alami atau air, maupun cairan kimia seperti povidon iodine. “Waktunya bebas, bisa kapan saja, berapa kali dan berapa lama untuk yang alami. Tapi kalau dengan cairan kimia karena cenderung lebih keras, cukup satu hari sekali,” tuturnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bandingkan Ledakan di Beirut dengan Bom Atom Hiroshima Nagasaki

    Pemerintah Lebanon meyakini ledakan di Beirut disebabkan 2.750 ton amonium nitrat. Banyak orang membandingkannya dengan bon atom Hiroshima Nagasaki.