Prosedur Berobat ke Dokter Gigi kala Pandemi COVID-19

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi dokter gigi menggunakan APD. ANTARA/Zabur Karuru

    Ilustrasi dokter gigi menggunakan APD. ANTARA/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Jakarta - Mengalami masalah gigi dan mulut di tengah pandemi Covid-19 tentu berbeda dari biasanya sebab kini berbagai bentuk pembatasan telah dilakukan pemerintah untuk mencegah penularan virus corona. Lalu, jika memang ingin ke dokter, apa saja prosedur yang harus diperhatikan?

    Satgas Covid-19 PB Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Rahmi Amtha mengatakan hingga kini segala bentuk pengobatan dan konsultasi langsung dengan dokter gigi hanya berlaku pada yang dalam kondisi darurat. Misalnya, mengalami nyeri gigi yang tidak tertahankan, trauma karena kecelakaan, dan pendarahan yang tak terkontrol.

    “Jadi, syarat utama kalau mau ke dokter gigi hanya keadaan darurat saja. Kalau yang biasa-biasa, semuanya dialihkan ke telemedicine karena perawatan gigi itu risikonya tinggi sekali sebab berhubungan langsung dengan aerosol atau air liur pasien,” katanya dalam webinar bersama Betadine pada Rabu, 8 Juli 2020.

    Rahmi juga mengatakan di era pandemi Covid-19 ini setiap pengobatan ke dokter diwajibkan terlebih dulu melakukan penjadwalan.

    “Harus janjian, tidak bisa langsung datang dan ditangani begitu saja. Jadi kalau memang sudah mendesak, segera hubungi klinik atau rumah sakit untuk appointment,” katanya.

    Memperhatikan kesehatan dan kebersihan sebelum memeriksakan diri ke dokter gigi juga menjadi prosedur yang wajib ditaati. Rahma mengatakan setiap orang wajib dalam kondisi kesehatan yang baik dan selalu menerapkan pola hidup bersih agar tidak menularkan atau berisiko terjangkit virus corona.

    “Dari segi pasien harus higienis dan sehat, begitu pula dengan para petugas kesehatan. Dokter gigi akan menggunakan APD lengkap. Tempat praktek seperti rumah sakit dan klinik juga akan dipastikan selalu bersih agar pasien nyaman selama berobat. Keduanya harus bekerjasama untuk kesehatan semua,” jelasnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bandingkan Ledakan di Beirut dengan Bom Atom Hiroshima Nagasaki

    Pemerintah Lebanon meyakini ledakan di Beirut disebabkan 2.750 ton amonium nitrat. Banyak orang membandingkannya dengan bon atom Hiroshima Nagasaki.