Kembali Terinfeksi COVID-19, Ini Sebabnya

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi batuk. health24.com

    Ilustrasi batuk. health24.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Penelitian menunjukkan orang-orang yang telah pulih dari Covid-19 dapat kehilangan kekebalan terhadap penyakit ini dalam beberapa bulan dan virus corona dapat menginfeksi kembali seperti flu. Dilansir The Guardian, dalam studi longitudinal pertama dari kategorinya, ilmuwan menganalisis respons imun lebih dari 90 pasien dan petugas kesehatan di Guy’s and St Thomas’ NHS Foundation Trust.

    Hasilnya ditemukan antibodi yang dapat menghancurkan virus memuncak sekitar tiga minggu setelah timbulnya gejala umum. Akan tetapi, kemudian menurun dengan cepat. Tes darah yang dilakukan mengungkapkan 60 persen orang menyusun antibodi kuat dalam pertempuran melawan virus corona. Namun, hanya 17 persen yang mempertahankan potensi yang sama dalam tiga bulan mendatang.

    Ditemukan juga bahwa tingkat antibodi turun sebanyak 23 kali lipat selama periode tersebut. Bahkan, dalam beberapa kasus, antibodi yang melawan virus corona baru di dalam tubuh itu menjadi tidak terdeteksi.

    “Orang-orang menghasilkan respons antibodi yang masuk akal terhadap virus, tetapi itu memudar dalam waktu singkat dan tergantung pada seberapa tinggi puncak yang terjadi, yang menentukan berapa lama antibodi bertahan,” kata Katie Doores, penulis utama penelitian dari King’s College London.

    Dalam laporan penelitiannya disebutkan bahwa studi ini memiliki implikasi untuk pengembangan vaksin dan untuk mengejar apa yang disebut herd immunity di masyarakat dari waktu ke waktu. Sistem kekebalan memiliki banyak cara untuk melawan virus corona, tetapi jika antibodi adalah garis pertahanan utama, temuan ini menunjukkan orang dapat terinfeksi ulang dalam gelombang musiman dan vaksin mungkin tidak melindungi dalam waktu lama.

    Hasil awal dari Universitas Oxford menunjukkan vaksin virus corona yang mereka kembangkan menghasilkan tingkat antibodi yang lebih rendah pada kera dibanding yang terlihat pada manusia yang terinfeksi. Robin Shattock, profesor dari Imperial College London, mengatakan vaksin yang sedang dikembangkan oleh kelompoknya dapat tersedia pada paruh pertama 2021 jika uji klinis yang saat ini dilakukan berjalan dengan baik.

    Namun, dia mengingatkan tidak ada kepastian apa pun vaksin yang sedang dikembangkan bakal berfungsi. Dia juga mengatakan masih belum jelas jenis respons imun seperti apa yang diperlukan untuk mencegah infeksi.

    Studi King’s College adalah yang pertama kali memantau tingkat antibodi pada pasien dan pekerja rumah sakit selama tiga bulan setelah munculnya gejala Covid-19. Penelitian memanfaatkan hasil tes dari 65 pasien dan enam petugas, dan 31 staf lain yang mengajukan diri untuk melakukan tes antibodi rutin.

    Penelitian yang telah dilaporkan dalam jurnal itu menemukan bahwa tingkat antibodi naik lebih tinggi dan bertahan lebih lama pada pasien yang mengalami kasus parah. Ini mungkin karena pasien memiliki lebih banyak virus dan mengeluarkan lebih banyak antibodi untuk melawan infeksi.

    “Satu hal yang kita ketahui tentang virus corona adalah orang dapat terinfeksi ulang cukup sering. Berarti, bahwa kekebalan yang dihasilkan orang tidak bertahan lama. Sepertinya SARS-CoV-2 mungkin juga memiliki pola ini,” kata Stuart Neil, profesor rekan penelitian studi ini.

    Adapun, Jonathan Heeney, virolog di Universitas Cambridge mengatakan penelitian ini mengonfirmasi bukti yang berkembang bahwa kekebalan terhadap Covid-19 memiliki umur yang penting.

    “Saya tidak bisa menggarisbawahi betapa pentingnya masyarakat memahami bahwa terinfeksi virus ini bukan hal yang baik. Beberapa orang, terutama kaum muda, menjadi agak angkuh tentang infeksi, berpikir mereka akan berkontribusi terhadap herd immunity,” katanya.

    “Mereka tidak hanya menempatkan diri mereka dan yang lain dalam risiko infeksi, juga kehilangan kekebalan, bahkan menempatkan diri pada risiko yang lebih besar dari penyakit paru-paru parah yang akan terjadi jika mereka terinfeksi kembali di tahun mendatang,” imbuhnya.

    Namun demikian, Arne Akbar, imunolog di University College London mengatakan antibodi banyalah bagian dari cerita yang belum utuh. Menurutnya, ada bukti yang berkembang bahwa sel T diproduksi untuk melawan pilek dapat juga melindungi manusia dari virus ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bandingkan Ledakan di Beirut dengan Bom Atom Hiroshima Nagasaki

    Pemerintah Lebanon meyakini ledakan di Beirut disebabkan 2.750 ton amonium nitrat. Banyak orang membandingkannya dengan bon atom Hiroshima Nagasaki.