Tidak Hanya untuk Olahraga, Sepeda Multiguna Juga untuk Bergaya

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Komunitas Cargo Bike Indonesia di Kebayoran Baru, Jakarta, 7 Juli 2020. TEMPO/Ijar Karim

    Komunitas Cargo Bike Indonesia di Kebayoran Baru, Jakarta, 7 Juli 2020. TEMPO/Ijar Karim

    TEMPO.CO, Jakarta - Deretan sepeda itu tak hanya tampak mencolok karena warnanya yang ngejreng. Secara dimensi dan bentuk, kelima sepeda itu juga terlihat berbeda dengan kereta angin kebanyakan. Semuanya punya panjang yang tak normal, satu setengah sampai dua kali lipat sepeda biasa. Roda depannya lebih kecil dibanding roda belakang. Ada yang dipasangi peti kayu di bagian tengahnya, kotak aluminium, atau dek kosong seperti pada mobil pick-up. Inilah sepeda kargo atau sepeda multiguna yang belakangan ngetren di kalangan pemilik hobi bersepeda.

    Sepeda-sepeda ini punya bentuk yang berlainan satu sama lain, karena punya fungsi berbeda-beda pula. Sepeda berkelir jingga menyala dengan peti kayu di depannya, misalnya. Ini bukan alat gowes biasa, melainkan sebuah perpustakaan berjalan. Ketika tutup peti dibuka, terdapat dua ambalan kayu yang bisa dijadikan rak. Bagian peti yang cukup lega itu juga dijejali aneka bacaan, dari majalah, komik, sampai buku-buku tebal. Sepeda ini adalah maskot dari taman bacaan masyarakat bernama Kampung Buku, yang berlokasi di Cibubur, Jakarta Timur.

    Penggagas Kampung Buku, Edi Dimyati, 42 tahun, awalnya tak punya rencana memiliki sebuah sepeda untuk dijadikan perpustakaan. Pertemuan Edi dengan sepeda ini terjadi ketika ia hendak menghadiri peringatan Hari Aksara Internasional di Kuningan, Jawa Barat, September 2017. Salah satu rekan Edi, Ana Mulyana, kebetulan punya hobi bersepeda dan mengajak Edi mendatangi acara itu dengan cara gowes. Sebelum berangkat, Ana mendatangi bengkel las salah satu rekannya, Badrul Alam, di daerah Tangerang Selatan. Rupanya, saat itu Badrul Alam baru selesai membuat sepeda kargo. “Waktu itu Alam--panggilan Badrul Alam—meminjamkan sepeda kargo itu untuk mengangkut buku-buku yang mau kami bawa ke Kuningan,” ujar Ana kepada Tempo, Senin lalu.

    Mereka pun berangkat dengan tiga sepeda biasa plus sepeda kargo yang belakangan diberi nama “Kabaca”. Kata Kabaca, kata Edi, adalah singkatan dari “Kampung Baca”, “Kargo Baca”, dan juga berarti “terbaca” dalam bahasa Sunda. Selama 11 hari, Ana, Edi, dan rekan-rekan mereka gowes dengan jarak total 500 kilometer. Dari Jakarta menuju Kuningan lewat jalur Pantura Jawa Barat, dan pulang kembali ke Jakarta lewat jalur selatan. Di sepanjang perjalanan, mereka berhenti di titik keramaian dan sekolah-sekolah untuk menggelar buku bacaan. “Karena bentuknya unik dan menarik, banyak anak dan orang dewasa tertarik mendatangi kami, mereka pun akhirnya ikut membaca buku.”

    Setelah melakukan perjalanan epik tersebut, sepeda kargo buatan Alam itu dibeli oleh Edi dan difungsikan menjadi perpustakaan keliling. Sebelum pandemi Covid-19, baik Edi maupun Ana kerap membawa sepeda ini berkeliling ke kampung-kampung di Jabodetabek, “mangkal” di taman-taman kota setiap akhir pekan atau di masjid-masjid setiap hari Jumat. “Ini upaya kami untuk menularkan minat baca kepada banyak orang, dan dilakukan dengan cara ramah lingkungan,” kata Edi.

    PRAGA UTAMA | KORAN TEMPO


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.