Batasi Penggunaan Gawai pada Anak meski Harus Belajar dari Rumah

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak bermain gawai (pixabay.com)

    Ilustrasi anak bermain gawai (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Proses belajar dari rumah selama masa adaptasi new normal membuat anak lebih sering terpapar layar komputer atau ponsel. Namun, perubahan kebiasaan ini bukan alasan buat orangtua mengabaikan batasan waktu anak terpapar layar gawai.

    Orangtua perlu mengontrol agar anak tak terpapar layar digital terlalu lama demi kesehatan dan tumbuh kembangnya. Dokter spesialis anak Ahmad Suryawan memaparkan pedoman waktu layar untuk anak dari berbagai rentang usia.

    Anak usia 2-6 tahun (prasekolah) diperbolehkan menonton secara digital, namun durasinya maksimal 60 menit per hari. Untuk anak usia 6-12 tahun yang duduk di bangku sekolah dasar, waktu layar sebaiknya tidak lebih dari 90 menit. Ahmad menyarankan orangtua agar berdiskusi dengan pihak sekolah sehingga pembelajaran jarak jauh secara daring tidak melebihi 90 menit sehari.

    "Pastikan penggunaan media atau screen time tidak jadi kebiasaan sebelum mengerjakan pekerjaan sekolah," katanya di bincang-bincang “Jaga Kesehatan, Belajar di Rumah, Bebas Stres" Rabu, 29 Juli 2020.

    Ia menyarankan orangtua memastikan alokasi waktu anak untuk tidur, beraktivitas secara aktif yang melibatkan gerak fisik dan kegiatan harian penting lain tidak terkikis oleh penggunaan media. Pada usia ini, durasi tidur anak yang ideal adalah 9-11 jam.

    Untuk anak usia sekolah menengah, yakni 12-18 tahun, waktu layar disarankan tidak lebih dari 2 jam. Anak yang lebih besar sudah memahami konsep keseimbangan waktu, jadi orangtua bisa membantu mereka mengelola jadwal penggunaan media setiap hari.

    Menurut Ahmad, durasi screen time yang berlebihan pada anak usia dini bisa menimbulkan gangguan perkembangan, gangguan bicara-bahasa, gangguan perilaku dan sosial serta emosi, juga gangguan kecerdasan. Interaksi antara orangtua dan anak juga dapat berkurang.

    Untuk bisa mengurangi waktu anak terpapar gawai, orangtua juga perlu mawas diri. Jika ingin perilaku anak berubah, orangtua pun harus mengurangi durasi berkutat di hadapan layar. Ahmad mengingatkan orangtua untuk bisa mengenali gejala stres pada anak selama masa pandemi.

    Waspadalah bila ada perubahan perilaku dan emosi yang tidak stabil. Anak yang cemas berlebihan, tampak murung, dan menarik diri dari lingkungan bisa jadi tanda buah hati merasa tertekan. Amati juga kebiasaan tidurnya. Bila dia mengalami gangguan seperti sulit tidur dan mimpi buruk, bisa jadi anak sedang stres. Mengompol juga salah satu tanda, terutama untuk anak yang biasanya tidak mengompol.

    Lengket secara berlebihan pada orangtua atau pengasuh pun salah satu pertanda anak stres. Untuk mengatasinya, berikan anak lebih banyak perhatian. Dengarkan pendapat dan keluh kesahnya serta libatkan buah hati ketika menyusun agenda.

    Dampingi anak saat bermain dan belajar serta lakukan aktivitas fisik yang cukup. Hal yang tak kalah penting adalah memperlihatkan sikap yang tenang sehingga anak pun merasakan hal yang sama.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bandingkan Ledakan di Beirut dengan Bom Atom Hiroshima Nagasaki

    Pemerintah Lebanon meyakini ledakan di Beirut disebabkan 2.750 ton amonium nitrat. Banyak orang membandingkannya dengan bon atom Hiroshima Nagasaki.