Kembangkan Lagu Anak Indonesia, Pemerintah Janji Bikin Ekosistem Baru

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Konferensi pers daring Kita Cinta Lagu Anak Indonesia (KILA) yang digelar Kemendikbud di Jakarta, Rabu 29 Juli 2020.Tempo/ Mitra Tarigan

    Konferensi pers daring Kita Cinta Lagu Anak Indonesia (KILA) yang digelar Kemendikbud di Jakarta, Rabu 29 Juli 2020.Tempo/ Mitra Tarigan

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Perfilman, Musik, dan Media Baru Ahmad Mahendra mengatakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berupaya menciptakan ekosistem baru untuk mengembalikan kejayaan lagu anak dengan menggelar lomba menyanyi dan mencipta lagu anak. "Ada produksinya tapi ekosistemnya sudah lost. Ini yang kami ingin kembalikan ekosistemnya," kata Mahendra dalam konferensi pers daring Kita Cinta Lagu Anak Indonesia (KILA) yang digelar Kemendikbud di Jakarta, Rabu 29 Juli 2020.

    Menurut Mahendra, Presiden Joko Widodo melihat ada persoalan dalam industri musik khususnya lagu anak karena sekian tahun tidak muncul kreativitas baru. Karena itu, Jokowi meminta agar Kemendikbud juga bergerak memajukan kreativitas musik dan perfilman, termasuk mengembalikan kejayaan lagu anak. Ia mengatakan upaya membangun kembali ekosistem tersebut dimulai dengan mengadakan lomba menyanyikan dan menciptakan lagu anak terlebih dulu melalui KILA. Dari sana ekosistem dicoba untuk dibangun termasuk membangkitkan kembali industri musiknya hingga berkembang dan padat karya.

    "Kalau tidak dinyanyikan, tidak ditampilkan oleh ikon-ikon terkenal kan enggak mungkin naik. Apalagi sekarang ada media sosial sehingga ada strategi baru yang bisa digunakan untuk menaikkan minat terhadap lagu-lagu anak," kata dia.

    Penata musik Dian Hadipranowo yang juga menjadi salah satu juri KILA mengatakan para musisi sebenarnya banyak memproduksi lagu-lagu khusus untuk anak-anak. Namun seperti kebanyakan musisi mereka tidak dapat bergerak tanpa promosi. “Kami ini kreator, jadi kami tidak bisa bergerak tanpa promosi. Kami ada kendala di bidang promosi ini,” ujar dia.

    Selain itu, menurut dia, ada pula pergeseran pada anak-anak di Indonesia menjelang usia belasan tahun yang sudah tidak mau lagi dianggap anak-anak, tetapi masuk remaja, sehingga selera lagunya pun sudah bergeser.

    Lagu anak, menurut dia, selain berfungsi menghibur juga untuk memberikan pendidikan. “Sederhana saja, bisa soal tomat, sendok garpu, es krim, televisi, atau apapun, luas sekali”. Mereka bisa berkreasi apapun tidak perlu harus dari satu genre saja, bisa juga hanya dengan bantuan satu alat musik saja juga tidak masalah, kata Dian.

    Sementara itu, Sita Dewanto mewakili KITA Indonesia mengatakan memilih mengusulkan lomba menyanyi dan menciptakan lagu anak bermula dari keprihatinan bahwa lagu anak-anak saat dirinya kecil kerap terdengar kini hilang.

    Sementara dalam ajang-ajang lomba pencarian bakat lebih sering terdengar lagu-lagu asing, dari anak-anak kerabat maupun anak-anak Indonesia pada umumnya diketahui sudah tidak punya lagi idola cilik. "Dulu kita kenal Mbak Chica Koeswoyo, Adi Bing Slamet, lalu zamannya Sherina, Tina Toon, Tasya, lalu sempat hilang. Sekarang benar-benar hilang," ujar dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H