Heboh Gilang Bungkus, Apakah Fetish Kelainan Seksual?

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penampil fetish show May di dalam bar fetish BarBar di distrik Patpong, kawasan hiburan malam dan seks yang sepi dari pengunjung di tengah pandemi wabah Virus Corona di Bangkok, Thailand, 22 Mei 2020. REUTERS/Matthew Tostevin

    Penampil fetish show May di dalam bar fetish BarBar di distrik Patpong, kawasan hiburan malam dan seks yang sepi dari pengunjung di tengah pandemi wabah Virus Corona di Bangkok, Thailand, 22 Mei 2020. REUTERS/Matthew Tostevin

    TEMPO.CO, Jakarta - Netizen Indonesia heboh dengan sosok Gilang, yang merupakan mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Surabaya. Ia dituding menjadi pelaku pelecehan seksual. Namun, pola pelecehan yang muncul kali ini berbeda. Gilang dinilai memiliki fetish dengan membungkus orang lain dengan kain jarik. Gilang disebut meminta korbannya menutupi seluruh tubuh dengan kain demi sebuah penelitian. Itulah kenapa, saat ini sosoknya disebut sebagai Gilang Bungkus.

    Gilang menghubungi para korbannya yang mayoritas merupakan mahasiswa tingkat awal, melaui media sosial. Lalu, dengan kedok ingin melakukan penelitian ilmiah, Gilang memaksa lawan bicaranya untuk membungkus seluruh tubuhnya dengan kain jarik, setelah sebelumnya kaki, tangan, mata, serta telinga korban diinstruksikan untuk ditutup menggunakan lakban. Lalu saat permintaannya tidak dikabulkan, pria itu mulai mengeluarkan ancaman dan pemaksaan pada korban.

    Fetish, hingga saat ini sebenarnya belum dimasukkan sebagai kelainan seksual. Tahu BDSM? BDSM adalah aktivitas seksual yang merujuk pada perbudakan fisik, sadisme dan masokhisme yang dilakukan atas kesepakatan kedua belah pihak. BDSM juga termasuk salah satu jenis fetish. Meski begitu, jika fetish yang dimiliki sudah membuat diri memaksa dan membuat orang lain merasa tidak nyaman, maka hal itu perlu segera diobati dan mendapatkan tindak lanjut.

    Apakah fetish adalah kelainan seksual? Berdasarkan definisi, istilah fetish sendiri belum bisa digolongkan sebagai diagnosis gangguan mental apabila tidak menimbulkan tekanan dan kerugian. Menurut ahli, apabila Anda melakukan masturbasi dengan objek fetish tertentu, maupun berhubungan seks bersama pasangan lewat variasi fetish tanpa tekanan, maka fetish bukanlah sebuah masalah.

    Hanya saja, apabila fetish Anda menimbulkan kesulitan yang intens serta merugikan, keinginan tersebut dapat menjadi gangguan. Fetish akan menjadi masalah jika Anda tidak mampu untuk mengontrol hal tersebut, mengganggu rutinitas sehari-hari, serta membuat orang lain tidak nyaman. Gangguan ini dikenal sebagai fethistic disorder.

    Ada beberapa indikator lain yang menunjukkan gangguan akibat fetish. Jika hal-hal tersebut muncul, maka Anda membutuhkan penanganan dari dokter. Beberapa indikator tersebut, meliputi:

    1. Mengabaikan pasangan
    Penderitanya sulit menjalani hubungan yang serius dengan pasangan. Selain itu, mereka juga cenderung lebih terangsang dengan benda yang dikenakan oleh pasangan, yang membuat suami atau istri menjadi terabaikan.

    2. Berperilaku kompulsif
    Terus menerus timbul rasa putus asa, tertekan, bahkan memiliki keinginan bunuh diri. Beberapa orang juga bisa mencuri barang yang menjadi objek fetishnya.

    3. Mengganggu orang lain
    Fetish dapat menjadi gangguan, apabila fantasi seks yang Anda miliki sangat merepotkan diri sendiri dan kehidupan personal serta sosial.

    Mencari pertolongan ahli jiwa sangat disarankan, jika memiliki fetish yang sudah mengganggu. Penanganan dokter dapat berupa pemberian obat-obatan, maupun terapi.

    SEHATQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bandingkan Ledakan di Beirut dengan Bom Atom Hiroshima Nagasaki

    Pemerintah Lebanon meyakini ledakan di Beirut disebabkan 2.750 ton amonium nitrat. Banyak orang membandingkannya dengan bon atom Hiroshima Nagasaki.