Bisnis Kuliner saat WFH, Untungnya Bisa Puluhan Hingga Ratusan Juta Rupiah

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi berbagi foto kuliner di media sosial. Digitalcoco.com

    Ilustrasi berbagi foto kuliner di media sosial. Digitalcoco.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Persaingan bisnis kuliner di bidang makanan dan minum kini makin kreatif. Tak sedikit masyarakat yang selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB) akibat pandemi virus corona (Covid-19) mengisi waktu sekaligus menyalurkan hobi memasaknya dengan menjalankan bisnis kuliner.

    Biasanya, mereka yang menjalankan bisnis kuliner rumahan ini menerapkan sistem preorder, artinya produk baru akan dibuat setelah ada pesanan dari pelanggan. Meski hanya rumahan, tetapi bisnis tersebut ternyata tak bisa dipandang sebelah mata.

    Konsultan Makanan dan Minuman Bisma Adi Putra, yang menangani lebih dari 160 outlet kuliner menemukan fakta bahwa tak sedikit pelaku usaha kuliner skala rumahan yang bisnisnya baru berjalan sekitar tiga hingga lima bulan terakhir ini, mampu membukukan omzet yang cukup fantastis. “Ternyata, banyak di antara pelaku usaha kuliner rumahan tersebut yang bisa mendapatkan omzet hingga puluhan juta bahkan ada yang menembus Rp 100 jutaan per bulan,” ujarnya.

    Hal tersebut tidak lepas dari berbagai inovasi dan strategi marketing yang dijalankan oleh pelaku usaha kuliner tersebut. Inovasi pun tak hanya terbatas pada cita rasa saja tetapi juga packaging, proses marketing, hingga pelayanan yang diberikan.

    Beberapa di antaranya ada yang akhirnya fokus dan meneruskan bisnis tersebut. Tetapi tidak sedikit pula mereka keteteran dengan bisnis mereka hingga akhirnya menghentikanusaha saat para pekerja kembali ke kantor. “Sebetulnya dari segi kesempatan atau landscape bisnis ini masih seru dan prospektif, tapi ya balik lagi ini akan menjadi seleksi alam,” kata Adi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bandingkan Ledakan di Beirut dengan Bom Atom Hiroshima Nagasaki

    Pemerintah Lebanon meyakini ledakan di Beirut disebabkan 2.750 ton amonium nitrat. Banyak orang membandingkannya dengan bon atom Hiroshima Nagasaki.