Waspada Gangguan Perkembangan Anak Bila Terlalu Banyak Paparan Monitor

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siswi kelas 2 SDN 01 Pagi Bukit Duri Keysha Nayara Effeni (8) belajar secara online didampingi ibunya Okta (31) di gerai makanan tempat ibunya berjualan di kawasan Bukit Duri, Jakarta, Kamis, 30 Juli 2020. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan menggunakan metode daring dan bimbingan orang tua saat masa pandemi ini masih menjadi kendala.  TEMPO/M Taufan Rengganis

    Siswi kelas 2 SDN 01 Pagi Bukit Duri Keysha Nayara Effeni (8) belajar secara online didampingi ibunya Okta (31) di gerai makanan tempat ibunya berjualan di kawasan Bukit Duri, Jakarta, Kamis, 30 Juli 2020. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan menggunakan metode daring dan bimbingan orang tua saat masa pandemi ini masih menjadi kendala. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Proses belajar jarak jauh yang dilakukan selama masa pandemi virus corona, membuat anak dari rumah selama masa adaptasi kebiasaan baru membuat buah hati mau tak mau lebih sering terpapar layar komputer, laptop atau handphone. Perubahan kebiasaan ini bukan alasan buat orang tua mengabaikan batasan waktu anak terpapar layar gawai screen time bagi anak. Orang tua perlu mengontrol agar anak tak terpapar layar digital terlalu lama demi kesehatan dan tumbuh kembangnya.

    Dokter spesialis anak Ahmad Suryawan memaparkan pedoman screen time untuk anak dari berbagai rentang usia. Anak usia dua hingga enam tahun (prasekolah) diperbolehkan menonton secara digital, namun durasinya maksimal 60 menit per hari. Untuk anak usia 6-12 tahun yang duduk di bangku sekolah dasar, screen time sebaiknya tidak lebih dari 90 menit.

    Ahmad menyarankan orang tua agar berdiskusi dengan pihak sekolah sehingga belajar online tidak melebihi 90 menit sehari. "Pastikan penggunaan media atau screen time tidak jadi kebiasaan sebelum mengerjakan pekerjaan sekolah," kata dia di bincang-bincang “Jaga Kesehatan, Belajar di Rumah, Bebas Stres" Frisian Flag, Rabu 29 Juli 2020.

    Ia menyarankan orang tua memastikan alokasi waktu anak untuk tidur, beraktivitas secara aktif yang melibatkan gerak fisik dan kegiatan harian penting lain tidak terkikis oleh penggunaan media. Pada usia ini, durasi tidur anak yang ideal adalah 9-11 jam.

    Untuk anak usia sekolah menengah, yakni 12-18 tahun, screen time disarankan tidak lebih dari dua jam. Anak yang lebih besar sudah memahami konsep keseimbangan waktu, jadi orang tua bisa membantu mereka mengelola jadwal penggunaan media setiap hari.

    Menurut Ahmad, durasi paparan layar yang berlebihan pada anak usia dini bisa menimbulkan gangguan perkembangan, gangguan bicara-bahasa, gangguan perilaku dan sosial serta emosi juga gangguan kecerdasan. Interaksi antara orang tua dan anak juga dapat berkurang.

    Untuk bisa mengurangi waktu anak terpapar gawai, orang tua juga perlu mawas diri. Jika ingin perilaku anak berubah, orang tua pun harus mengurangi durasi berkutat di hadapan layar gawai. Ahmad mengingatkan orang tua untuk bisa mengenali gejala stres pada anak selama masa pandemi.

    Waspadalah bila ada perubahan perilaku dan emosi yang tidak stabil. Anak yang cemas berlebihan, tampak murung dan menarik diri dari lingkungan bisa jadi tanda buah hati merasa tertekan.

    Amati juga kebiasaan tidurnya. Bila dia mengalami gangguan seperti sulit tidur dan mimpi buruk, bisa jadi anak sedang merasa stres. Mengompol juga salah satu tanda, terutama untuk anak yang biasanya tidak mengompol. Lengket secara berlebihan kepada orang tua atau pengasuh pun salah satu pertanda stres pada anak.

    Untuk mengatasinya, berikan anak lebih banyak perhatian. Dengarkan pendapat dan keluh kesahnya serta libatkan buah hati ketika menyusun agenda. Dampingi anak saat bermain dan belajar serta lakukan aktivitas fisik yang cukup. Hal yang tak kalah penting adalah memperlihatkan sikap yang tenang sehingga anak pun merasakan hal yang sama.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bandingkan Ledakan di Beirut dengan Bom Atom Hiroshima Nagasaki

    Pemerintah Lebanon meyakini ledakan di Beirut disebabkan 2.750 ton amonium nitrat. Banyak orang membandingkannya dengan bon atom Hiroshima Nagasaki.