Penyintas Kanker Paru Berisiko Tinggi Terpapar Virus Corona

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Kanker paru-paru. Shutterstock

    Ilustrasi Kanker paru-paru. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Dunia saat ini sedang dihadapkan dengan pandemi COVID-19 yang pertama kali muncul di Wuhan pada bulan Desember 2019. Pandemi virus corona membawa berbagai dampak khususnya terhadap dunia kesehatan dan keberlangsungan hidup pasien kanker. Menurut banyak laporan, salah satu yang dapat menyebabkan terinfeksinya virus corona dengan mudah adalah rendahnya sistem imunitas tubuh. Sehingga penderita kanker pun menjadi salah satu faktor risiko terbesar terkena penyakit itu.

    Inilah yang menjadi dasar dilakukannya survei terhadap tindakan yang diberikan para penyintas kanker dalam masa pandemi ini. Tingkat infeksi virus corona di salah satu institusi, menunjukkan infeksi virus corona terjadi di angka 0,79 persen pada pasien onkologi. Sedangkan risiko infeksi virus corona pada pasien penyakit umum 0,39 persen. Pasien kanker paru pun lebih rentan terinfeksi dengan angka risiko 25-38 persen dibandingkan dengan kanker lainnya.

    “Bekerja sama dengan Cancer Information & Support Center (CISC), survei ini dilakukan untuk memetakan dampak pandemi COVID-19 pada penyintas dengan menggunakan platform online, dan direspon oleh 355 penyintas kanker di seluruh Indonesia,” kata Dokter Spesialis Kanker Paru Elisna Syahruddin sekaligus Ketua Pokja Kanker Paru Perhimpunan Dokter Paru Indonesia pada diskusi virtual dengan tema 'Pandemi COVID-19 dari Sudut Pandang Penyintas Kanker' pada 1 Agustus 2020.

    Survei yang dilakukan tersebut menunjukkan hasil yang sangat baik terkait pengetahuan responden tentang COVID-19 dan upaya pencegahan yang perlu dilakukan untuk meminimalisir risiko penularan. Sebaliknya ternyata para responden tidak terlalu cemas dengan adanya wabah virus corona yang sudah memiliki ratus ribuan korban sedunia ini. Tingkat kecemasan di kalangan responden ternyata masih terbilang rendah. Tercatat sebanyak 73 persen dari seluruh responden yang mendapat informasi cukup terkait pencegahan COVID-19, seperti selalu memakai masker, cuci tangan, jaga jarak dan menjaga imunitas tubuh. Selain itu, 60,1 persen responden mengakui tingkat kecemasan mereka akibat COVID-19 cukup rendah. "Tiga hal yang sering memicu kecemasan penyintas kanker selama pandemi adalah memburuknya kondisi pasien akibat COVID-19, ditunjukkan di angka 38,8 persen, selanjutnya 29,2 persen responden cemas terhadap terganggunya proses terapi dan 22,5 persen khawatir akan gangguan akses ke pusat layanan kesehatan,” kata Elisna Syahruddin.

    Penyintas kanker paru Megawati Tanto, yang juga Koordinator Kanker Paru CISC mengakui beratnya tantangan yang dihadapi oleh pasien kanker paru. Menurut Megawati, para pasien kanker, termasuk kanker paru, sangat bergantung pada pelayanan. "Jika penindakan dan layanan kesehatan selama masa pandemi terganggu, seperti waktu tunggu yang lama ataupun ketidaktersediaan obat yang dijamin maupun yang tidak dijamin BPJS akan berdampak buruk pada riwayat kesehatan pasien," katanya.

    CISC, kata megawati, berharap agar penyedia layanan kesehatan tidak mengesampingkan akses pelayanan kanker. "Oleh karena itu, perlu penguatan kolaborasi antar semua pemangku kepentingan terkait kanker dalam upaya promotif, preventif, diagnosis, kuratif, rehabilitatif dan paliatif untuk penanggulangan kanker nasional di masa pandemi COVID-19 menuju adaptasi kebiasaan baru,” katanya.

    Adapun beberapa rekomendasi yang dihasilkan dari survei ini adalah akses layanan kesehatan bagi penyintas kanker harus menjadi prioritas di masa pandemi. Penyedia layanan kesehatan diimbau untuk menjadikan prosedur diagnosis kanker sebagai prioritas layanan kanker dan pemberian terapi lini pertama, khususnya bagi pasien baru dan stadium lanjut perlu diterapkan tanpa membatasi akses layanan kanker dan tetap mengikuti tatalaksana layanan kanker selama pandemi COVID-19.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bandingkan Ledakan di Beirut dengan Bom Atom Hiroshima Nagasaki

    Pemerintah Lebanon meyakini ledakan di Beirut disebabkan 2.750 ton amonium nitrat. Banyak orang membandingkannya dengan bon atom Hiroshima Nagasaki.