Benarkah Sakit Leher Tanda Kolesterol Tinggi?

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita memegang leher / leher sakit. loyolamedicine.org

    Ilustrasi wanita memegang leher / leher sakit. loyolamedicine.org

    TEMPO.CO, Jakarta - Sakit kepala atau sakit leher sering dianggap sebagai tanda bahwa seseorang memiliki tingkat kolesterol yang tinggi, namun hal tersebut tidak benar. Dokter spesialis penyakit dalam, Rudy Kurniawan, mengatakan kolesterol seringnya tidak memiliki gejala atau tanda. Ketika diperiksakan, kebanyakan jumlahnya langsung tinggi.

    Menurut Rudy, gejala sakit kepala, sakit leher hingga tengkuk terasa berat adalah gejala dari penyakit lain. Oleh karenanya, penting bagi seseorang untuk secara berkala memeriksa tingkat kolesterolnya. "Kalau kolesterolnya meningkat di atas ambang normal, sering kali tidak bergejala pada awalnya. Tapi kalau sampai ada gangguan sakit kepala atau kayak leher sakit, itu murni bukan karena kolesterol tapi karena ada gangguan lain seperti hipertensinya atau kekakuan otot," ujar Rudy dalam bincang-bincang daring Tropicana Slim, Sabtu 2 Agustus 2020.

    Rudy juga mengatakan kolesterol, hipertensi dan diabetes umumnya tidak menunjukkan gejala awal pada penderita. Melakukan pemeriksaan rutin dan menerapkan pola hidup sehat adalah cara terbaik untuk menangkal penyakit mematikan tersebut. "Yang harus digaris bawahi adalah baik kolesterol, hipertensi dan diabetes awal-awal tidak bergejala, makanya penting untuk melakukan pengecekan awal dan lebih penting lagi untuk hidup sehat karena lebih baik mencegah daripada mengobati," kata dr Rudy.

    Sementara itu, Rudy juga membantah bahwa sering berkeringat pada telapak tangan dan kaki merupakan gejala awal dari penyakit jantung. "Enggak secara langsung orang yang berkeringat pada tangan dan kaki adalah indikasi jantung, karena memang ada kelenjar keringat di tangan dan kaki. Agak sulit untuk membedakan apakah orang berkeringat itu indikasi jantung atau tidak, tentunya harus diperiksakan lebih lanjut," ujar Rudy.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bandingkan Ledakan di Beirut dengan Bom Atom Hiroshima Nagasaki

    Pemerintah Lebanon meyakini ledakan di Beirut disebabkan 2.750 ton amonium nitrat. Banyak orang membandingkannya dengan bon atom Hiroshima Nagasaki.