Cinta pada Pandangan Pertama Itu yang Sejati, Benarkah?

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pasangan. Unsplash.com/Priscilla du Perez

    Ilustrasi pasangan. Unsplash.com/Priscilla du Perez

    TEMPO.CO, Jakarta - Cinta pada pandangan pertama adalah fenomena romantis, di mana seseorang mengklaim memiliki ikatan instan, kuat, intens, dan ekstrem dengan seseorang yang baru saja dilihat atau temui. Banyak orang yang merencanakan perjalanan romantis atas cinta pada pandangan pertama.

    Anda pun perlu membedakan dari apa yang mungkin merupakan ketertarikan atau kegilaan. Mengutip dari Times of India, berikut beberapa alasan mengapa Anda mungkin berpikir cinta pandangan pertama adalah cinta sejati.

    Daya tarik atau kegilaan
    Cinta itu rumit tapi cinta pada pandangan pertama bisa jadi lebih rumit. Tentunya, Anda bisa jatuh cinta pada seseorang saat pertama kali bertemu tetapi mendefinisikannya sebagai cinta harus didukung dengan fakta yang kuat. Jika itu murni atas dasar ketertarikan yang kemudian berubah menjadi kegilaan, mungkin itu secara bertahap berkembang menjadi cinta, tetapi itu bukanlah cinta pada pandangan pertama.

    Pikiran bawah sadar Anda memiliki tipe tertentu
    Pikiran bawah sadar membuat seseorang meyakini bahwa telah mencintai orang yang baru saja ditemui. Ini karena jauh di lubuk hati, orang yang jatuh cinta tersebut sudah memiliki tipe. Tipe tersebut terbentuk dari gambar seseorang di masa lalu yang telah meninggalkan kesan positif dan seseorang yang dihormati serta menginspirasi.

    ADVERTISEMENT

    Keinginan dari dalam diri
    Mungkin ada banyak hal yang diinginkan hati dan pikiran. Meskipun Anda mungkin tidak mengungkapkannya, itu selalu lazim dalam jiwa manusia.

    Getaran kompatibilitas
    Orang mungkin tidak mempercayainya, tetapi selalu ada getaran kompatibilitas yang masuk saat kita bertemu seseorang untuk pertama kali. Mungkin itu cara ia mendekati Anda atau menawarkan sesuatu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Makan di Warteg saat PPKM Level 4 dan 3 di Jawa - Bali

    Pemerintah membuat aturan yang terkesan lucu pada penerapan PPKM Level 4 dan 3 soal makan di warteg. Mendagri Tito Karnavian ikut memberikan pendapat.