Seperti Obat, Vitamin Bisa Beri Efek Samping

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi vitamin dan suplemen. TEMPO/Subekti

    Ilustrasi vitamin dan suplemen. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Saat kondisi tidak enak badan, banyak orang memilih untuk memperkuat tubuh dengan konsumsi vitamin. Memang, kandungan zat di dalamnya ampuh menjaga dan meningkatkan imunitas tubuh sehingga dapat menyerang berbagai penyakit.

    Meski begitu, tak jarang masyarakat juga takut mengkonsumsi multivitamin lantaran dianggap memiliki efek samping seperti obat. Benarkah demikian? Menjawab keresahan masyarakat atas hal tersebut, ahli farmakologi Jarir At Thobari pun angkat bicara.

    Ia menjelaskan bahwa ternyata, multivitamin juga bisa memberikan efek samping seperti obat. Pasalnya, multivitamin terbentuk dari campuran kimia. “Jadi bukan hanya zat vitamin saja, tapi dibentuk juga dengan bahan aktif lainnya,” katanya dalam webinar Patient Safety Day pada 17 September 2020.

    Meski begitu, efek samping yang muncul tidak akan seberat konsumsi obat. Ketua International Society of Pharmacovigilance (ISoP) Indonesia itu pun mencontohkan konstipasi, diare, dan nyeri lambung bisa menjadi bentuk efek samping yang mengkonsumsi vitamin. “Kalaupun parah, hanya alergi saja. Tapi alergi ini bukan karena kandungan vitamin, tapi bahan kimia itu,” katanya.

    Selain itu, multivitamin sendiri juga bisa dihentikan penggunaannya sewaktu-waktu. Sehingga saat mengalami efek samping yang tidak diinginkan, si pemakainya pun bisa langsung stop mengkonsumsinya. Hal inilah yang membuat Jarir meminta masyarakat tidak terlalu khawatir dengan multivitamin.

    “Kalau obat, kita harus konsultasi dengan dokter dulu sebelum berhenti total. Tapi vitamin, karena sebenarnya dia itu tambahan dan kalau kita ganti dengan konsumsi makanan bergizi saja cukup, bisa langsung ditinggalkan. Jadi tidak perlu terlalu khawatir dengan dampak buruknya ya,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Belajar dari Lonjakan Kasus Covid-19 Pada Liburan Lalu

    Tak hendak mengulang lonjakan penambahan kasus Covid-19 akibat liburan 28 Oktober 2020 mendatang, pemerintah menerapkan beberapa strategi.