Haruskah Stop Minum Obat Saat Rasakan Efek Samping?

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi minum obat. Shutterstock

    Ilustrasi minum obat. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Saat terserang penyakit yang ringan maupun berat seperti flu hingga kanker, seseorang tentu perlu mengkonsumsi obat. Bahan kimia pada obat bisa menyembuhkan hingga memulihkan kondisi tubuh seperti sedia kala. Sayangnya, obat juga memiliki efek samping.

    Beberapa ciri efek samping obat adalah sakit perut, diare, pusing, sembelit, penglihatan yang kabur, mulut kering, kehilangan nafsu makan, telinga berdenging, ruam pada kulit hingga pingsan.

    Jika efek samping tersebut dirasakan, haruskah kita langsung berhenti konsumsi obat? Dokter Spesialis Penyakit Dalam sekaligus Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Aru Wisaksono Sudoyo tidak menyarankannya. Sebaliknya, ia mengimbau seseorang untuk konsultasi terlebih dahulu dengan dokter. “Khususnya jika Anda memiliki penyakit yang memang wajib minum obat setiap hari seperti diabetes, hipertensi, atau kanker, itu semua harus dikonsultasikan dahulu dengan dokter. Jadi jangan langsung berhenti sendiri,” katanya dalam webinar Patient Safety Day pada 17 September 2020.

    Apabila sudah dikonsultasikan dengan dokter, umumnya akan diberi tiga alternatif pilihan. Ini adalah dosis obat yang sama diturunkan lalu dinaikkan perlahan, diberhentikan sementara atau obat diganti dengan yang baru. “Yang bisa mengevaluasi ini dokter. Jadi memang sebaiknya ke dokter dulu nomor satu,” katanya.

    Lalu, apa yang bisa dialami jika seseorang mengambil jalannya sendiri dengan stop konsumsi obat tersebut? “Pastinya penyakit yang diderita pasien itu akan semakin parah. Itulah mengapa, komunikasi dua arah antara pasien dan dokter sangat penting dilakukan,” katanya.

    Menambahkan pendapat Aru, ahli farmakologi Jarir At Thobari juga mengatakan bahwa pasien bisa mengadukan obat yang dirasa memberi dampak buruk bagi kesehatan mereka melalui berbagai platform, salah satunya SafeTrack. “Keselamatan dan keamanan pasien selalu diutamakan. Kalau merasa kurang nyaman dengan obat yang dikonsumsi, segera laporkan agar obat bisa dievaluasi sehingga efek sampingnya jika memungkinkan akan diminimalkan,” kata Ketua International Society of Pharmacovigilance (ISoP) Indonesia itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jadwal Imsakiyah dan Puasa Ramadhan 1442 H - 2021 M

    Ini jadwal puasa dan imsakiyah Ramadhan 1442 H yang jatuh pada 13 April hingga 12 Mei 2021, Idul Fitri 1 Syawal 1442 H jatuh pada 13 Mei 2021.