Orang Sarkastik dan Sinis Mudah Terkena Serangan Jantung

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Ujaran Kebencian. shutterstock.com

    Ilustrasi Ujaran Kebencian. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Apakah Anda pribadi atau orang di sekitar suka bertindak sarkastik dan sinis? Sebaiknya kebiasaan itu kini harus mulai dihindari. Pasalnya, sebuah studi terbaru menyebut bahwa orang dengan kedua sifat tersebut rentan terjangkit serangan jantung.

    Melansir dari situs Mirror.co.uk, tim di University of Tennessee di Amerika Serikat melakukan pengujian dengan mengalami kepribadian lebih dari 2.300 orang selama 24 bulan. Adapun seluruh partisipannya adalah pasien yang baru saja selamat dari serangan jantung.

    Setelah observasi dilakukan dengan membandingkan hasil skor kepribadian, ditemukan mereka yang memusuhi orang lain lebih mungkin menderita serangan jantung kembali. Penulis studi, Tracey Vitori juga menggarisbawahi beberapa karakteristik permusuhan. Ini termasuk sarkasme, sinisme, kebencian, ketidaksabaran serta mudah tersinggung.

    Ilustrasi Serangan Jantung. thestar.com.my

    “Orang yang bermusuhan telah meningkatkan waktu pembekuan, tingkat adrenalin yang lebih tinggi, di atas tingkat kolesterol dan trigliserida normal, dan peningkatan reaktivitas jantung. Faktor inflamasi yang diketahui ini dapat mempengaruhi jantung dan meningkatkan hasil klinis yang buruk,” katanya lewat studi yang dipublikasikan di European Journal of Cardiovascular Nursing itu.

    Memperkuat studi tersebut, penelitian sebelumnya juga pernah dilakukan oleh Profesor Farmakologi Jantung di Imperial College London, Sian Harding. Melansir dari situs The Sun, memang ada hubungan yang kuat antara emosi dengan penyakit jantung. "Emosi yang kuat berhubungan erat dengan kematian jantung, seringkali yang mendadak karena aritmia,” katanya.

    Sementara itu, studi lain yang diterbitkan oleh Associate Professor Psikiatri di Harvard Medical School, Jeff C Huffman menyatakan bahwa menjadi bahagia dapat memberikan jantung yang sehat. "Orang yang mengalami emosi positif memiliki tingkat kortisol yang lebih rendah, dan lebih sedikit kelainan tekanan darah dan respons stres fibrinogen terhadap tes stres mental, dibandingkan dengan mereka yang tidak merasakan emosi positif,” katanya.

    SARAH ERVINA DARA SIYAHAILATUA | MIRROR.CO.UK | THESUN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Belajar dari Lonjakan Kasus Covid-19 Pada Liburan Lalu

    Tak hendak mengulang lonjakan penambahan kasus Covid-19 akibat liburan 28 Oktober 2020 mendatang, pemerintah menerapkan beberapa strategi.