Urban Farming, Hobi yang Semakin Diminati selama Pandemi Covid-19

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi urban farming/berkebun di perkotaan. Shutterstock

    Ilustrasi urban farming/berkebun di perkotaan. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Selama pandemi Covid-19, berbagai aktivitas baru mulai banyak dikerjakan masyarakat. Salah satunya urban farming atau berkebun di ruang terbatas. Hal tersebut bisa dilihat dari meningkatnya penjualan tanaman secara online maupun offline.

    Dimulai dari penjualan secara online, Tokopedia sebagai perusahaan e-commerce menunjukkan eskalasi transaksi yang naik hingga tiga kali lipat sejak periode Maret hingga Agustus 2020. Tentunya, kurun waktu tersebut bersamaan dengan pandemi yang melanda Tanah Air.

    “Subkategori taman di Tokopedia mengalami peningkatan transaksi menjadi lebih dari tiga kali lipat selama merebaknya virus corona. Di sisi lain, benih dan bibit bunga lavender serta sayuran seperti bayam, kailan, kangkung, tomat, dan paprika menjadi produk yang paling dicari pembeli,” katanya dalam webinar pada 25 September 2020.

    Sedangkan dari penjualan offline, pemilik usaha yang berfokus menjual berbagai jenis tanaman serta kebutuhan berkebun secara umum, Nanem Taneman, Adawiyah Riwan, mengalami hal serupa. Ia menceritakan pandemi justru berpengaruh secara signifikan bagi bisnisnya.

    “Saya merasa sangat beruntung karena pandemi ini justru membuat penjualan Nanem Taneman mengalami peningkatan berkali-kali lipat dari biasanya,” kata wanita yang berkecimpung di dunia bisnis tanaman sejak tahun 2017 itu.

    Bahkan, Adawiyah harus menambah karyawan untuk mengatasi lonjakan pesanan yang terjadi.

    “Tetangga di sekitar rumah saya banyak yang di-PHK. Mereka lah yang kemudian saya rekrut untuk membantu mengatasi lonjakan pesanan di Nanem Taneman selama pandemi ini,” jelasnya.

    Nanem Taneman kini dapat melayani sekitar 1.500 pesanan per bulan. Berbicara mengenai jenis tanaman maupun kebutuhan perawatan tanaman favorit, Adawiyah mengaku seluruh produknya hampir dibilang favorit.

    “Semua minatnya naik. Omzet bulanan Nanem Taneman bahkan bisa mencapai lebih dari Rp 100 juta karena pandemi dan kebutuhan pasar yang tinggi,” katanya.

    Sementara penjualan tetap meroket, Adawiyah bersama 10 karyawannya di sisi lain semakin rutin mengadakan workshop virtual.

    “Tujuannya untuk mengedukasi masyarakat, khususnya pecinta tanaman terkait cara merawat tanaman dengan baik dan benar. Jadi tidak hanya beli, tapi juga tahu cara merawatnya juga,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Fakta Kasus Rangga, Bocah Yang Cegah Ibu Diperkosa

    Pada Kamis, 15 Oktober 2020, tagar #selamatjalanrangga trending di Facebook dan Twitter.