Penyakit Jantung Menyerang Usia Muda, Cegah dengan 4 Langkah Ini

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita terkena serangan jantung. shutterstock.com

    Ilustrasi wanita terkena serangan jantung. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Data Kementerian Kesehatan 2013 menyebutkan sebanyak 39 persen penderita jantung di Indonesia berusia kurang dari 44 tahun. Yang mengejutkan, 22 persen di antaranya berumur 15–35 tahun. Padahal usia 15-35 tahun adalah masa fisik produktif dalam kehidupan manusia. Saat itu pun disebutkan bahwa jumlah penderita jantung tertinggi ada pada kelompok usia 45–65 tahun dengan persentase 41 persen. Selisih yang tak berbeda jauh antara umur 45 tahun ke bawah dan 45 ke atas jadi penegas bahwa tren risiko penyakit jantung datang pada usia produktif semakin meningkat.

    Yayasan Jantung Indonesia mendapatkan dukungan penuh dari World Heart Federation (Federasi Jantung Sedunia) untuk mengadakan berbagai rangkaian acara yang berhubungan dengan youth capacity building dalam bidang kesehatan jantung. Dalam rangkaian memperingati Hari Jantung Indonesia tahun ini Yayasan Jantung Indonesia mengadakan sesi Webinar dengan tema Penyakit Jantung Menyerang Anak Muda Apa Solusinya?

    Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia, Esti Nurjadin mengatakan Yayasan Jantung Indonesia mengkampanyekan pentingnya pencegahan penyakit jantung dan kardiovaskular dengan fokus utama pada generasi muda yang masih di usia produktif. "Program Yayasan Jantung Indonesia adalah mengajak generasi millennial untuk menjadi agen-agen perubahan di bidang kesehatan jantung sehingga bisa menjadi smart influencer untuk lingkungan keluarganya, lingkungan tempat kerja, lingkungan tempat tinggal atau lingkungan sekolah baik melalui media virtual maupun tradisional,” katanya dalam keterangan pers yang diterima Tempo pada 3 Oktober 2020.

    Tantangannya saat ini, anak muda Indonesia masih dihadapkan dengan berbagai permasalahan kesehatan pada kaum muda, di antaranya adalah gaya hidup tidak sehat, seperti kebiasaan merokok, kurang bergerak, makanan yang tidak sehat dan proposional, yang menyebabkan penyakit, salah satu diantaranya adalah penyakit jantung.

    Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Cut Putri Arianie mengatakan bahwa penyakit jantung termasuk salah satu penyakit tidak menular yang disebabkan oleh 5 hal berikut. "Pola makan tidak sehat seperti terlalu banyak gula, garam lemak. (GGL berlebihan), kurangnya atktivitas fisik, merokok, berat badan berlebih, peningkatan tekanan darah, dan prediabetes,” katanya.

    Biasanya orang tidak menyadari bahwa dia menderita penyakit karena keluhannya tidak khas atau tidak terasa. Mereka baru akan menyadari kalau menderita penyakit jantung setelah mengalami serangan hebat. "Salah satu cara utama untuk mencegah penyakit jantung selain menjaga pola hidup sehat adalah dengan deteksi awal melalui medical checkup”, ujar dokter Vito A. Damay, SpJP (K)

    Maka berdasarkan dari hal-hal tersebut Yayasan Jantung Indonesia sebagai Organisasi Kesehatan memandang perlu kolaborasi yang efektif antara masyarakat umum dan Pemerintah untuk menekan prevalensi penyakit Jantung yang dialami oleh masyarakat usia produktif.

    Bagaimana generasi muda untuk menekan prevalensi penyakit jantung? Dokter Tara Kessaram, MBBS, MPH, FNZCPHM, Team Lead, Noncommunicable Diseases and Healthier Population, WHO Indonesia memberikan beberapa contoh yang bisa dilakukan.

    1. Jauhi rokok
    2. Beraktivitas fisik secara rutin
    3. Menjalani diet sehat
    4. Mengkampanyekan gaya hidup sehat melaui kegiatan-kegiatan positif di lingkungan mereka.

    Pemeriksaan kesehatan secara rutin sejak dini juga merupakan bagian penting dari pencegahan penyakit jantung. Yayasan Jantung Indonesia memberikan edukasi mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin sebagai skrining atau deteksi dini dari penyakit jantung dan kardiovaskular.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Macam Batal Puasa

    Ada beberapa macam bentuk batalnya puasa di bulan Ramadan sekaligus konsekuensi yang harus dijalankan pelakunya.