Sandiaga Uno Nilai Kewirausahaan Pemimpin BUMN Rendah

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sandiaga Uno sebelum sidang mempertahankan disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor manajemen, Sabtu, 25 Juli 2020. Foto IG @sandiuno.

    Sandiaga Uno sebelum sidang mempertahankan disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor manajemen, Sabtu, 25 Juli 2020. Foto IG @sandiuno.

    TEMPO.CO, Jakarta - Salah satu temuan menarik yang diungkapkan dalam disertasi pengusaha Sandiaga Uno ialah masih rendahnya nilai kewirausahaan Entrepreneurial Values (EV) pada pimpinan BUMN. Nilai EV pemimpin-pemimpin BUMN berada pada kisaran 42 persen atau masih cukup rendah.

    Sandiaga tidak menampik jika hasil temuan EV pada pada pemimpin BUMN memang cukup mengejutkan karena sangat rendah. Padahal BUMN berkontribusi sangat besar terhadap ekonomi nasional. “Nah, ini tentunya perlu studi yang lebih mendalam. Tapi boleh kita mengambil komentar Prof. Hendrawan [Hendrawan Supratikno] bahwa pemilihan pimpinan BUMN perlu dikoreksi,” ujar Sandiaga ketika mempertanggunjawabkan disertasinya di Universitas Pelita Harapan (UPH), di Jakarta, Sabtu 3 Oktober 2020.

    Sandiaga menyampaikan itu menjawab pertanyaan yang diajukan Didik J. Rachbini yang menjadi salah satu penguji. Sandi menulis disertasi berjudul The Effect of Entrepreneurial Values and Entrepreneurial Orientation on the Financial Perfomance and Their Impacts on Future Intention: An Empirical Evidence from Indonesia State-Owned Enterprises.

    Sandi menjelaskan salah satu penyebab rendahnya EV para pemimpin BUMN ialah rendahnya self direction. Dia mencontohkan banyak pimpinan BUMN sering menunggu arahan atau belum ada kebijakan dari Kementerian BUMN. “Contohnya menunggu arahan, menunggu keputusan, belum ada WA dari atasan, belum ada kebijakan dari kementerian salah satunya seperti itu,” katanya.

    Alasan kedua yang mempengaruhi rendahnya EV pimpinan BUMN menurut Sandi ialah regulasi yang mengekang para CEO atau CFO BUMN. Hal itu menyebabkan para pimpinan BUMN ragu-ragu dalam melakukan inovasi.

    “Inovasinya sukses enggak dihargai, kalau gagal dipecat dan kemungkinan dituntut secara hukum. Oleh karena itu Menteri BUMN mengedepankan akhlak, loyalitas dan team work yang secara tidak langsung merupakan karakter EV,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Belajar dari Lonjakan Kasus Covid-19 Pada Liburan Lalu

    Tak hendak mengulang lonjakan penambahan kasus Covid-19 akibat liburan 28 Oktober 2020 mendatang, pemerintah menerapkan beberapa strategi.