Suka Nongkrong dan Jalan - Jalan Bikin Milenial Susah Mulai Investasi

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Generasi Milenial. all-souzoku.com

    Ilustrasi Generasi Milenial. all-souzoku.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Perencana keuangan Prita Hapsari Ghozie mengatakan ada sejumlah penyebab yang membuat milenial susah memulai investasi sejak dini. Prita Hapsari menyebut bahwa kaum milenial kerap melakukan kesalahan dalam perencanaan keuangan sehingga membuat mereka sulit untuk memulai investasi.

    "Pertama biasanya dia rela berhutang untuk hal yang tidak esensial padahal sebenarnya bisa ditabung dulu. Seperti ganti handphone, kemudian beli apa segala macam. Itu sebenarnya kalau mau nabung dulu bisa, tapi malah berhutang," kata Prita Hapsari Ghozie dalam bincang virtual 'Tokopedia: Jurus investasi milenial hadapi pandemi', Rabu 14 Oktober 2020.

    Hal kedua, menurut Prita Hapsari, kesalahan keuangan yang sering dilakukan milenial adalah tidak menyisakan pemasukan untuk kebutuhan dana darurat yang masih dianggap tidak penting. "Sampai tiba-tiba pandemi datang, kita semua menyadari mereka yang bisa bernafas sedikit adalah teman-teman yang punya dana darurat," ujar Prita Hapsari.

    Prita juga menyebut bahwa milenial enggan memulai investasi karena merasa masih muda dan ingin bersenang-senang dahulu, seperti menghabiskan pengeluaran dengan hangout dan jalan-jalan.

    Dia menilai ada peluang yang bisa dilakukan para milenial untuk mengubah kebiasaan menghabiskan pengeluaran untuk jalan-jalan menjadi keinginan berinvestasi dengan mempertahankan kebiasaan saat pandemi seperti sekarang ini.

    "Kebiasaan kita untuk tidak hangout dan traveling rupanya selama tujuh bulan ini berhasil kok. Kita aman-aman aja hidup. Jadi artinya ini kebiasaan baik yang bisa dilakukan meski sudah tidak pandemi lagi," imbuhnya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Sukses yang Harus Diadopsi Pengusaha di Masa Pandemi Covid-19

    Banyak bisnis menderita di 2020 akibat pandemi Covid-19.