10 Kalimat Paling Menjengkelkan saat Rapat Jarak Jauh

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Zoom vs Google Meet. Kredit: Zoom/Google Meet

    Zoom vs Google Meet. Kredit: Zoom/Google Meet

    TEMPO.CO, Jakarta - Pandemi Covid-19 telah menciptakan sistem kerja baru, termasuk bekerja dari rumah (WFH). Panggilan dan rapat video pun akan terus menjadi media komunikasi andalan.

    Panggilan video menjadi semakin lazim dilakukan selama pandemi, memungkinkan tim dan divisi untuk melakukan bisnis dari jarak jauh. Penting bagi peserta rapat untuk menampilkan diri mereka secara profesional selama rapat jarak jauh.

    Terlepas dari kebutuhan profesionalisme dalam setiap conference call tatap muka, momen canggung selalu ada. Dilansir melalui Small Business Trend, sebuah survei yang dilakukan oleh Easy Offices mencatat beberapa kalimat paling menjengkelkan sering dikatakan selama conference call berlangsung.

    Survei tersebut menanyakan 1.000 pekerja jarak jauh frasa apa yang paling mereka tidak disukai dan paling menjengkelkan ketika berpartisipasi dalam conference call.

    "Saya perlu melakukan panggilan lain."
    Ini masuk akal mengapa seseorang menyatakan mereka perlu melompat pada panggilan lain mungkin dianggap kasar.

    "Audio Anda masih dalam keadaan mute."
    Anda mungkin tahu dalam mode bisu dan tidak perlu diberitahu demikian.

    “Kami kehilangan kalian sebentar tadi.”
    Sekali lagi, menyatakan hal yang jelas tentang kendala panggilan jarak jauh dianggap merendahkan dan menjengkelkan.

    “Apakah semuanya sudah hadir?”
    Terdengar seperti seorang guru yang berbicara di kelas taman kanak-kanak.

    “Anda dapat melihat layar saya?”
    Pertanyaan lain yang biasa digunakan dan mengganggu di panggilan video.

    “Bisakah semua orang menggunakan mode bisu?"
    Satu lagi kalimat yang sedikit menjengkelkan.

    "Sebaiknya kita bahas ini secara offline."
    Atau bisakah kita memperpanjang durasi rapat dan menyelesaikan masalah ini sekarang sehingga tidak perlu dibahas lagi nanti?

    "Karena waktunya hanya tinggal beberapa menit lagi."
    Jika hanya ada beberapa menit tersisa, mengapa tidak mengakhiri rapat dengan cara yang proaktif daripada menyatakan fakta yang sudah diketahui semua orang?

    "Feedbacknya buruk sekali.”
    Gangguan yang disebabkan oleh feedback sudah jelas mengganggu, jadi tidak perlu menyampaikannya lagi ke seluruh peserta rapat.

    "Saya harus undur diri tepat pada pukul sekian."
    Dengan kata lain, rapat harus diakhiri, tidak peduli apakah masalahnya sudah selesai atau belum rampung dibahas.

    Bukankah akan lebih efektif untuk memperpanjang durasi rapat atau mengatur rapat lain untuk memastikan tidak ada yang terlewat? Kalimat ini juga dianggap tidak menghargai waktu para peserta rapat lain.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggunaan Masker Bagi Sebagian Orang Bisa Menimbulkan Jerawat

    Saat pandemi seperti sekarang ini penggunaan masker adalah hal yang wajib dilakukan.