5 Hal yang Penting Demi Sehat Jasmani dan Mental, Rutinitas Harus Terjaga

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita menikmati makanan di restoran. Unsplash/Pablo Merchan

    Ilustrasi wanita menikmati makanan di restoran. Unsplash/Pablo Merchan

    TEMPO.CO, JakartaPsikolog klinis anak dan keluarga dari Tiga Generasi, Saskhya Aulia Prima merekomendasikan Anda menerapkan perilaku “SABAR” untuk menjaga agar jasmani dan mental tetap sehat di masa krisis pandemi COVID-19 saat ini. SABAR adalah akronim untuk sempatkan waktu bersama orang-orang tersayang, atur ekspektasi, berbuat baik pada diri sendiri, aplikasikan gaya hidup sehat dan rutinitas yang terjaga.

    Pertama, sempatkan meluangkan waktu berkualitas bersama orang-orang tersayang. Penelitian menunjukkan, jika Anda memiliki hubungan yang bermakna atau ikatan emosional positif dengan orang lain bisa menjadi salah satu cara menjaga kesehatan mental Anda.

    “Atau mempertahankan ring satu kita (keluarga misalnya) menjadi salah satu cara menjaga kesehatan mental kita. Penelitian ini dari Harvard, 80 tahun longitudinal, mereka mengikuti orang dari muda sampai senior, bahwa hubungan yang meaningfull dengan teman atau keluarga penting untuk kebahagiaan hidup,” ujar Saskhya dalam webinar 'Sehat Jiwa untuk Semua', Sabtu 17 Oktober 2020.

    Kemudian, atur ekspektasi dan pemikiran Anda. Ada hal-hal yang bisa Anda kontrol dan di luar kendali Anda. Sebaiknya fokus pada hal yang bisa Anda lakukan ketimbang selalu mengeluh. Berikutnya, berbuat baik pada diri sendiri. Saskhya menyarankan, setiap sebelum tidur atau saat bangun di pagi hari, bertanyalah pada diri apa saja yang sudah dilakukan selama satu hari untuk membuat Anda bahagia. Menurut dia, terkadang hal semacam ini luput dari Anda lantaran terlalu berpaku pada kebutuhan orang lain.

    Selanjutnya, aplikasikan gaya hidup sehat. Menurut studi, pola makan berpengaruh pada emosi dan pemikiran seseorang. Sebanyak 90 persen hormon kecemasan berasal dari usus. Menurut Saskhya, pola makan sehat tidak hanya berpengaruh pada imunitas fisik tetapi juga mental.

    Hal terakhir yang menjadi rekomendasi pakar kesehatan agar mental dan fisik Anda terjaga selama pandemi, melanjutkan rutinitas. “Jangan karena kita di rumah, bangun jam berapa saja, enggak mau ini, itu. Usahakan menjaga rutinitas karena otak kita suka sesuatu yang bisa diprediksi. Kalau situasi pandemi sekarang tidak bisa diprediksi, kita akan cemas terus. Cari yang bisa kita prediksi yaitu melakukan rutinitas kita sendiri,” kata Saskhya.

    Khusus untuk menjaga pola gaya hidup sehat, dokter umum RS Pondok Indah (RSPI) – Pondok Indah, I Made Tirta Saputra kepada ANTARA beberapa waktu lalu, menjelaskan hal itu mencakup makanan bergizi yang Anda konsumsi secara seimbang termasuk konsumsi sayuran dan buah yang mengandung vitamin B, vitamin C, zinc dan vitamin D untuk meningkatkan imunitas tubuh.

    Sementara, dokter spesialis gizi klinik RS Pondok Indah – Puri Indah, Raissa Edwina Djuanda melalui pesan elektroniknya menyebutkan, sejumlah makanan sumber vitamin C antara lain: jambu biji, kiwi, jeruk, cabai, paprika, brokoli, bayam. Sementara makanan yang merupakan sumber vitamin D yakni telur, ikan, susu atau bahan makanan yang sudah terfortifikasi, jamur.

    Sumber vitamin D juga bisa didapatkan dari sinar matahari. Anda bisa berjemur selama 10-15 menit per hari, namun tak perlu sampai melepas pakaian. Pastikan seluruh tubuh mendapatkan paparan sinar matahari.

    Dermatolog Nana Novia Jayadi, menyebutkan sinar matahari yang bisa menyebabkan kulit gosong akibat tingginya radiasi UVA dan UVB secara umum rata-rata pada jam 11.00 sampai jam 14.00. Oleh sebab itu mungkin bisa hindari berjemur terlalu lama pada jam-jam itu.

    Sinar matahari memiliki tiga jenis sinar radiasi yakni ultra violet A (UVA) dengan gelombang panjang, ultra violet B (UVB) dengan gelombang pendek, dan ultra violet C (UVC) dengan gelombang sangat pendek. "Semakin pendek gelombang, semakin besar tingkat radiasi yang bisa merusak kulit. Jadi di antara semua sinar ultra violet, UVC adalah yang paling merusak kulit. Jika terpapar sinar matahari terlalu lama, UVA akan menembus lapisan kulit lebih dalam dan dapat menyebabkan penuaan kulit berupa keriput dan noda hitam," kata Nana Novia Jayadi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Belajar dari Lonjakan Kasus Covid-19 Pada Liburan Lalu

    Tak hendak mengulang lonjakan penambahan kasus Covid-19 akibat liburan 28 Oktober 2020 mendatang, pemerintah menerapkan beberapa strategi.