Lawan Covid-19 dengan Sisi Psikologis Berikut

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi liburan keluarga (pixabay.com)

    Ilustrasi liburan keluarga (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Masyarakat memang diminta disiplin melakukan protokol kesehatan, seperti #cucitangan, #jagajarak, dan rajin #cucitangan atau 3M. Namun, psikolog juga menjelaskan pentingnya 3K. Apa itu?

    Psikolog Edward Andriyanto Sutardhio, M.Psi mengatakan untuk memberikan energi positif demi meningkatkan imunitas melawan COVID-19 dapat dilakukan dengan melakukan kaji informasi, kelola emosi, dan kembangkan sumber daya atau disingkat menjadi 3K.

    "Kaji informasi yang masuk, jangan hanya lihat data penambahan kasus hari ini, berapa kematian yang ada hari ini. Tapi lihat juga, agar kita lebih meningkatkan emosi positif, lihat siapa yang sembuh hari ini dan berapa banyak," kata Edward dalam diskusi Satuan Tugas Penanganan atau Satgas COVID-19 di Graha BNPB, Jakarta, Senin. 19 Oktober 2020.

    Dengan terlalu melihat penambahan kasus positif hari per hari, terkadang orang lupa angka pasien yang berhasil sembuh dari penyakit itu melebihi pasien baru. Bahkan, angka pasien sembuh pernah hampir mendekati 5.000 orang dalam satu hari.

    Pengkajian informasi, kata akademisi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu, adalah untuk memasukkan hal-hal positif untuk mendukung peningkatan imunitas. Selain itu, perlu juga dilakukan kelola emosi, yaitu memikirkan yang memang perlu dipikirkan untuk hari ini dan melakukan relaksasi serta menenangkan diri. Hal itu bisa dilakukan dengan cara berkomunikasi dengan orang-orang positif.

    Tidak hanya itu, pasien yang dalam proses kesembuhan melawan COVID-19 juga bisa melakukan K terakhir, yaitu kembangkan sumber daya dengan memanfaatkan sumber daya sekitar untuk memberikan energi positif kepada diri sendiri.

    Edward memberi contoh, seperti mendoakan orang lain yang dapat membantu diri sendiri serta pasien lain atau menghubungi keluarga yang dapat membantu ketenangan diri. Menurutnya, tanpa disadari sebenarnya banyak sekali sumber daya di sekeliling yang dapat membantu memberikan energi positif kepada pasien.

    "Sebenarnya kita tidak menyadari sumber daya di sekeliling. Kita fokus pada rasa bersalah, penyesalan, kita harus mulai melihat sumber daya," ujarnya.

    *Ini adalah artikel kerja sama Tempo.co dengan #SatgasCovid-19 demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Tegakkan protokol kesehatan dengan #pakaimasker, #jagajarakhindarikerumunan, dan #cucitanganpakaisabun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penyebab Lemak Perut Sulit Dihilangkan setelah Usia 40 Tahun

    Untuk mengatasi sulitnya menghilangkan lemak perut untuk pria yang berumur di atas 40 tahun, perlu melakukan upaya ekstra. Apa saja?