Malas Pakai Masker, Tanda Gangguan Kepribadian

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas memasang masker kepada anak-anak yang tidak mengenakan masker saat razia PSBB di Sawangan, Depok, Jawa Barat, Selasa, 25 Agustus 2020. Razia ditujukan kepada warga yang tidak mengenakan masker dengan memberikan hukuman sosial atau denda bertujuan menekan penyebaran virus Corona di wilayah Depok yang saat ini kembali menjadi zona merah. TEMPO/Amston Probel

    Petugas memasang masker kepada anak-anak yang tidak mengenakan masker saat razia PSBB di Sawangan, Depok, Jawa Barat, Selasa, 25 Agustus 2020. Razia ditujukan kepada warga yang tidak mengenakan masker dengan memberikan hukuman sosial atau denda bertujuan menekan penyebaran virus Corona di wilayah Depok yang saat ini kembali menjadi zona merah. TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.CO, Jakarta - Masih banyak orang yang malas #pakaimasker selama pandemi COVID-19 karena beragam alasan, mulai dari tak nyaman atau mengganggu mobilitas. Ternyata, menurut studi dari Brasil yang dilaporkan laman The Independent belum lama ini, orang yang antimasker saat berada di ruang publik ini mungkin memiliki hubungan dengan gangguan kepribadian antisosial.

    Temuan ini didapat setelah para ilmuwan melakukan survei pada lebih dari 1.500 orang dalam kelompok usia 18-73 tahun. Melalui kuesioner mereka bertanya tentang kepatuhan para partisipan terhadap tindakan pencegahan COVID-19, termasuk memakai masker.

    Hasilnya, ilmuwan menemukan ada dua pola, yakni profil antisosial atau resisten terhadap tindakan keamanan dan profil empati atau patuh. Profil antisosial mendapat skor lebih tinggi dalam pertanyaan kepribadian terkait dengan tidak berperasaan, tipu daya, permusuhan, impulsif, tidak bertanggung jawab, manipulatif, dan pengambilan risiko. Semua ini merupakan ciri khas dari gangguan kepribadian antisosial (ASPD).

    Mereka juga mendapat nilai lebih rendah dalam resonansi afektif. Sementara, mereka yang masuk profil empati memiliki skor yang lebih tinggi dalam resonansi afektif dan skor yang lebih rendah pada sifat-sifat yang terkait dengan ASPD.

    Tim peneliti berharap temuan tersebut akan membantu membujuk pejabat kesehatan untuk berbuat lebih banyak untuk mendidik masyarakat dan mempengaruhi kebijakan.

    "Melalui pemeriksaan yang menunjukkan peningkatan pada ciri-ciri (ASPD) ini, intervensi dapat dilakukan dengan tujuan pada kesadaran yang lebih besar dan kepatuhan konsekuen dengan tindakan penahanan," kata mereka.

    *Artikel ini adalah kerja sama Tempo.co dengan #SatgasCovid-19 demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Tegakkan protokol kesehatan, ingat selalu #pesanibu dengan #pakaimasker, #jagajarakhindarikerumunan, dan #cucitanganpakaisabun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    QAnon dan Proud Boys, Kelompok Ekstremis Sayap Kanan Pendukung Donald Trump

    QAnon dan Proud Boys disebut melakukan berbagai tindakan kontroversial saat memberi dukungan kepada Donald Trump, seperti kekerasan dan misinformasi.