Dokter Ingatkan Bahaya Komorbid di Masa Pandemi Covid-19

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pemeriksaan kesehatan jantung. Shutterstock

    Ilustrasi pemeriksaan kesehatan jantung. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Komorbid, yang maknanya adalah penyakit bawaan atau penyakit penyerta, disebut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) jadi penyebab terbanyak kematian pasien COVID-19. Pasien konfirmasi positif COVID-19 dengan komorbid atau penyakit bawaan menjadi kelompok yang rentan. Bahkan, komorbid menjadi penyebab terbanyak kematian pasien COVID-19 di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan.

    "Memang, komorbid diabetes merupakan faktor risiko yang dominan untuk berbagai penyakit, apalagi saat pandemi COVID-19 ini, risikonya sangat besar jika tertular COVID-19," kata dr. Andreas Harry, Sp.S (K).

    Salah spesialis saraf itu aktif terlibat bersama sukarelawan dalam penggalangan bantuan untuk perbaikan gizi bagi tenaga kesehatan, di antaranya yang bertugas di Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 di Wisma Atlet, Jakarta.

    "Saat ini masih pandemi, masih wabah, semua wilayah, semua orang harus sangat waspada di manapun, dan terbukti protokol kesehatan sangat melindungi dari tertular COVID-19," tambahnya.

    ADVERTISEMENT

    Menurut neurolog yang menyelesaikan pendidikan ahli saraf di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dan anggota International Society to Advance Alzheimer Research and Treatment (ISTART) itu, dunia kaget dengan munculnya COVID-19 dengan daya tular yang masif ini.

    "Dan bisa fatal, terbukti banyak dokter dan tenaga kesehatan juga meninggal," ungkapnya.

    Di lain pihak, COVID-19 efektif dicegah dengan protokol kesehatan #pakaimasker, #jagajarak aman, dan #cucitangan," kata Andreas.

    Dengan rujukan tersebut, khususnya mesti disiplin dalam 3M bagi komorbid di masa pandemi ini, risiko penularan bisa diminimalisasi.

    Mengutip keterangan Kepala Dinkes Jatim dr. Herlin Ferliana, M.Kes., yang menyatakan berdasarkan analisa di Provinsi Jatim, sebanyak 95 persen pasien positif COVID-19 meninggal karena komorbid dan jenis penyakit bawaan itu di antaranya paru-paru dan jantung.

    Ia memberi contoh agen dalam kasus ini adalah virus corona. Pasien positif COVID-19 yang diakibatkan oleh virus dapat dilakukan tata laksana isolasi mandiri. Menurutnya, hampir 100 persen pasien sembuh.

    Sedangkan faktor lain adalah host atau penderita COVID-19 yang sudah lansia dengan komorbid. Ini sangat mempengaruhi kerentanan seseorang terhadap kematian. Karena itu, di Jateng dilakukan skrining kelompok rentan seperti ibu hamil dan lansia dengan komorbid di mana mereka yang menjadi prioritas tes.

    *Ini adalah artikel kerja sama Tempo.co dengan #SatgasCovid-19 demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Tegakkan protokol kesehatan, ingat selalu #pesanibu dengan #pakaimasker, #jagajarakhindarikerumunan, dan #cucitanganpakaisabun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pujian dan Kado Menghujani Greysia / Apriyani, dari Sapi hingga Langganan Berita

    Indonesia hujani Greysia / Apriyani dengan sanjungan dan hadiah. Mulai dari sapi, emas sungguhan, sampai langganan produk digital. Dari siapa saja?