Natal dan Tahun Baru, Omzet Penjualan Cokelat dan Kartu Ucapan Naik Drastis

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi cokelat (pixabay.com)

    Ilustrasi cokelat (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Momen Natal dan Tahun Baru memicu peningkatan transaksi berbagai produk. External Communications Senior Lead Tokopedia, Ekhel Chandra Wijaya, mengungkapkan, “Masyarakat banyak membeli parsel, kue kering dan produk berkaitan dengan Natal belakangan ini,” kata Ekhel pada 14 Desember 2020.

    "Terbukti dari adanya peningkatan transaksi produk berkaitan dengan Natal sebanyak hampir 3 kali lipat dibandingkan dengan periode sebelum Natal,” kata Ekhel. Momen ini juga dimanfaatkan oleh pegiat usaha lokal Pipiltin Cocoa dan Harvest.

    Tissa Aunilla (42) pemilik usaha Pipiltin Cocoa, mulai fokus memanfaatkan platform digital Tokopedia sejak Maret 2020. “Omzet kami menurun lebih dari 50 persen karena pandemi. Kami akhirnya mengubah strategi penjualan menjadi online agar bisnis tetap berjalan,” kata Tissa.

    Tissa dan Irvan Helmi, partner bisnisnya di Pipiltin Cocoa, kini bekerja sama dengan kurang lebih seribu petani cokelat di berbagai daerah di Indonesia. Ia konsisten mengedukasi dan memberdayakan petani lokal agar bisa terus meningkatkan kualitas produksi. Menurutnya, cokelat hasil petani lokal juga mampu bersaing dengan buatan luar negeri. “Karena biji cokelat yang kami gunakan 100 persen diperoleh dari petani lokal, artinya masyarakat yang membeli produk kami juga turut menyejahterakan petani lokal. Dukungan seperti ini diharapkan bisa semakin memotivasi petani untuk terus mengembangkan potensi cokelat lokal,” kata Tissa.

    Menyambut Hari Natal dan Tahun Baru, Pipiltin Cocoa menyediakan beragam produk dengan harga terjangkau yang dapat dijadikan pilihan masyarakat untuk merayakan momen spesial. “Di momen Natal, penjualan kami bisa meningkat lebih dari 4 kali lipat dibandingkan dengan bulan sebelumnya,” ujar Tissa.

    Vendy Satria (29) menjadi penerus Harvest pada 2017. Usaha kartu ucapan dan stationery kit lainnya ini dibangun oleh motivator sekaligus ayahnya, Andrie Wongso, sejak 1985. Sejak bergabung, Vendy membawa sejumlah perubahan. Mulai dari mempertajam visi dan misi perusahaan, membangun budaya kerja baru hingga memaksimalkan penjualan lewat platform digital seperti Tokopedia.

    Menanggapi pandemi, Vendy mengatakan harus mengambil keputusan berat demi mempertahankan bisnis. “Omzet penjualan Harvest secara offline menurun drastis hingga 90 persen karena pandemi, maka kami terpaksa melakukan pengurangan karyawan,” kata Vendy.

    Meskipun begitu, ia mengatakan kehadiran platform digital di sisi lain sangat membantu Vendy beradaptasi dengan pandemi, menjangkau lebih banyak pembeli, dari Aceh hingga Papua. "Kini omzet perlahan naik dan lebih dari 65 persen penjualan online Harvest berasal dari Tokopedia,” kata Vendy.

    Saat menjelang Natal, Vendy menjelaskan bahwa kertas kado dan kartu ucapan menjadi produk paling laris. Selain berbisnis, Harvest juga rutin membagikan donasi berupa paket alat tulis bagi anak-anak difabel dan sejumlah panti asuhan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bersiap di Kala Bencana Melanda, Siapkan Tas Siaga

    Untuk memaksimalkan mitigasi bencana, setiap keluarga diharuskan memiliki tas siaga. Apa itu tas siaga? Berikut cara menyiapkannya.