Cara Mengenali Gejala Covid-19 pada Anak

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak sakit. shutterstock.com

    Ilustrasi anak sakit. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Covid-19 bisa menyerang siapa pun, termasuk anak-anak. Virus corona tidak mengenal usia dan juga rentang ekonomi.

    Oleh karena itu penting untuk mengetahui cara melakukan observasi gejala Covid-19. Pasalnya, saat ini tingkat keterisian rumah sakit sudah sangat tinggi di beberapa daerah sehingga tenaga kesehatan sulit diandalkan untuk melakukan observasi awal.

    Perkumpulan dokter Indonesia telah meluncurkan edisi ketiga Pedoman Tatalaksana Covid-19. Pedoman ini disusun oleh Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia, Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Insentif Indonesia, serta Ikatan Dokter Anak Indonesia.

    Di dalamnya disebutkan pasien Covid-19 dibedakan ke dalam lima golongan, yakni tanpa gejala, ringan, sedang, berat, dan kritis. Covid-19 tanpa gejala adalah kondisi paling ringan karena pasien tidak merasakan perubahan apapun di tubuhnya.

    Gejala umum Covid-19 yang tergolong ringan adalah demam, batuk, lelah, anoreksia, napas tersengal, dan nyeri otot. Selain itu, tim dokter juga menyebutkan gejala ringan lain, seperti sakit tenggorokan, hidung tersumbat, sakit kepala, diare, mual dan muntah, gangguan penciuman (anosmia) atau hilang pengecapan (ageusia), yang muncul sebelum gejala pernapasan juga sering dilaporkan.

    Baca juga: Gejala Covid-19 Ini Ternyata yang Paling Banyak Ditemukan

    Sementara itu, gejala yang tergolong sedang adalah pasien dengan gejala ringan ditambah dengan pneumonia atau sesak napas. Pada orang dewasa, hal ini ditandai dengan tingkat saturasi oksigen, di mana masih lebih dari 93 persen untuk pasien remaja atau dewasa.

    Untuk anak-anak berikut kriteria napas cepat atau berat:
    Usia <2 bulan: ≥60x/menit
    Usia 2–11 bulan: ≥50x/menit
    Usia 1–5 tahun: ≥40x/menit
    Usia >5 tahun: ≥30x/menit

    Adapun, untuk pasien anak dengan gejala berat ditambah setidaknya satu dari hal berikut:

    -Sianosis sentral yang ditandai dengan biru atau keabu-abuan pada kulit wajah atau sebagian besar tubuh.
    -Saturasi oksigen kurang dari 93 persen.
    -Distresi pernapasan berat, seperti napas cepat, mengorok, tarikan dinding dada yang sangat berat.

    Tanda bahaya umum: ketidakmampuan menyusu atau minum, letargi atau penurunan kesadaran, atau kejang.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.