5 Penyakit dengan Kasus Kematian Tertinggi yang Perlu Diwaspadai

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi hipertensi (Pixabay.com)

    Ilustrasi hipertensi (Pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Lima penyakit ini diklaim paling banyak diderita masyarakat Indonesia. Kebanyakan tidak menular tetapi menjadi pembunuh tertinggi.

    Kenaikan prevalensi untuk kelima penyakit ini disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat masyarakat Indonesia. Karena itu, penerapan gaya hidup sehat sangat diperlukan sebagai langkah pencegahan penyakit.

    Mengutip data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, Indonesia mengalami kenaikan jumlah prevalensi penyakit tidak menular dan menjadi penyebab kematian tertinggi. Mengutip dari Siloam Hospital, berikut lima jenis penyakit yang memerlukan perhatian khusus di Indonesia.

    Hipertensi
    Hipertensi telah menyebabkan kematian sekitar 8 juta orang per tahun. Setiap tahun, jumlah penderita hipertensi selalu naik. Fakta menunjukkan prevalensi hipertensi naik dari 25,8 persen pada 2013 menjadi 34,1 persen pada 2018. Kondisi ini mengakibatkan kematian sekitar 8 juta orang per tahun.

    Hipertensi disebut sebagai pembunuh senyap karena sebagian besar penderitanya tidak mengalami tanda-tanda atau gejala sehingga tidak menyadari telah terkena hipertensi. Dalam beberapa kasus, penderita baru mengetahuinya setelah terjadi komplikasi. Karena itu hipertensi menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

    Baca juga: Penyakit Penyerta yang Boleh dan Tidak Mendapat Vaksin Covid-19 serta Sebabnya

    Diabetes melitus
    Ancaman diabetes melitus sangat berbahaya karena prevalensi penyakit ini naik dari 6,9 persen menjadi 8,5 persen per 2018. Kondisi ini membuat harapan hidup berkurang 5 hingga 10 tahun. Masyarakat perlu berhati-hati agar tidak terkena diabetes melitus karena komplikasi yang ditimbulkan berdampak buruk bagi fungsi mata, jantung, ginjal, kulit, saraf, hingga saluran pernapasan.

    Stroke
    Stroke menjadi penyakit tidak menular yang menyebabkan kasus kematian terbanyak. Pada 2018 prevalensi stroke naik dari 7 persen menjadi 10,9 persen. Walaupun kasus sering ditemukan pada kelompok usia 45-74 tahun, stroke juga banyak ditemukan pada kelompok usia 15-24 tahun di Indonesia.

    Gagal ginjal kronis
    Sebanyak 30.554 pasien aktif menjalani cuci darah pada 2015, sebagian besar jumlah tersebut adalah penderita gagal ginjal kronis. Keterlambatan deteksi dan penanganan terhadap penyakit ini membuat prevalensi kematian cukup tinggi.

    Data prevalensi pada 2013 mencatat gagal ginjal kronis pada tahun tersebut adalah 2 persen, tapi telah meningkat menjadi 3,8 persen pada 2018. Selain gaya hidup yang tidak sehat, gagal ginjal kronis juga disebabkan oleh diabetes melitus, tekanan darah tinggi, hingga obesitas.

    Kanker
    Saat ini kanker menjadi penyakit tidak menular penyebab kematian terbanyak setelah stroke dan hipertensi. Data prevalensi penyakit ini naik dari 1,4 persen menjadi 1,8 persen pada 2018. Merokok menjadi faktor risiko utama yang menyebabkan 20 persen kematian akibat kanker dan 70 persen kematian akibat kanker paru-paru di dunia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.