Ketahui Efikasi dan Risiko Vaksin Sinovac, Vaksin Pfizer, dan Vaksin Moderna

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dokter menunjukan kartu vaksinasi usai penyuntikan vaksin Covid-19 di RS Kesehatan Ibu dan Anak di Bandung, Kamis, 14 Januari 2021. Hari ini dilaksanakan penyuntikan pertama vaksin Covid-19 Sinovac khusus untuk 1,4 juta tenaga medis di Indonesia. TEMPO/Prima mulia

    Dokter menunjukan kartu vaksinasi usai penyuntikan vaksin Covid-19 di RS Kesehatan Ibu dan Anak di Bandung, Kamis, 14 Januari 2021. Hari ini dilaksanakan penyuntikan pertama vaksin Covid-19 Sinovac khusus untuk 1,4 juta tenaga medis di Indonesia. TEMPO/Prima mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Setiap vaksin Covid-19 memiliki efikasi atau tingkat kemanjuran yang berbeda. Vaksin Sinovac memiliki efikasi 65,3 persen pada kelompok umur 18 sampai 59 tahun. Vaksin Moderna dengan efikasi 94,5 persen dan vaksin Pfizer dengan efikasi 95 persen.

    Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Primaya Hospital Tangerang, Tolhas Banjarnahor mengatakan tinggi rendahnya efikasi vaksin bukan hanya mencerminkan tingkat kemanjurannya, namun juga efek samping yang ditimbulkan. "Vaksin Covid-19 produksi Pfizer dan Moderna memiliki efikasi lebih tinggi dibanding Sinovac, namun efek samping yang dihasilkan Pfizer dan Moderna cukup berat," kata Tolhas dalam keterangan tertulis, Selasa 26 Januari 2021.

    Efek samping dari vaksin Moderna dan vaksin Pfizer yang dengan efikasi masing-masing 94,5 persen dan 95 persen, dapat memicu efek samping hingga penyakit level tiga yang membutuhkan perawatan. Efek samping yang dihasilkan vaksin Pfizer sebanyak 1,5 persen dan efek samping yang dihasilkan vaksin Moderna sebesar 4,1 persen. Sementara vaksin Sinovac, menurut Tolhs, hanya memiliki efek samping 0,1 persen yang sama dengan efek simpang vaksin flu.

    Petugas medis menunjukan vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech COVID-19. REUTERS/Andreas Gebert

    Vaksin Covid-19 ini bekerja dengan merangsang sistem imunitas tubuh untuk membentuk antibodi terhadap bagian virus Sars Cov-2 yang sudah mati di dalam vaksin. "Antibodi yang terbentuk ini akan melindungi kita apabila virus Sar Cov-2 masuk tubuh," kata Tolhas. Vaksinasi dapat membuat seseorang terhindar dari infeksi atau paling tidak hanya merasakan gejala ringan saja jika terpapar virus.

    Baca juga:
    2 Alasan Pentingnya Vaksin Covid-19 Menurut Dokter Paru

    Tolhas Banjarnahor mengingatkan tidak ada vaksin yang mempunyai efikasi seratus persen. Vaksin Sinovac misalkan yang memiliki efikasi 65,3 persen pada kelompok umur 18 sd 59 tahun. Artinya, masih ada kemungkinan 34,7 persen seseorang yang sudah vaksinasi terinfeksi Covid-19.

    Masyarakat yang hendak menjalani vaksinasi Covid-19 harus dalam kondisi sehat. Suhu tubuh tidak lebih dari 37,5 derajat Celcius, terinfeksi Covid-19, atau menderita penyakit yang belum terkontrol seperti asma, TBC, diabetes melitus, dan hipertensi hingga penyakit tersebut terkontrol.

    Adapun reaksi tubuh seseorang setelah menjalani vaksinasi bisa bermacam-macam. Mulai dari nyeri di tempat penyuntikan, kemerahan, bengkak, nyeri otot, lemah, sakit kepala, demam, hingga reaksi alergi berat. Sejauh ini, di Indonesia belum ada laporan reaksi alergi berat dari penyuntikan vaksin Sinovac.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.