Memahami Positive Persistence yang Dialami Penyintas Covid-19, Jangan Panik

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi swab test atau tes usap Covid-19. REUTERS

    Ilustrasi swab test atau tes usap Covid-19. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Pasien Covid-19 yang dinyatakan sembuh mungkin bingung kenapa saat menjalani tes Covid-19 hasilnya masih positif. Padahal dia merasa sudah tubuhnya sudah segar kembali.

    Ketua Kelompok Kerja Perhimpunan Dokter Paru Indonesia atau PDPI, Erlina Burhan mengatakan, penyintas Covid-19 tidak perlu panik jika masih terdeteksi positif, meski sudah menjalankan isolasi mandiri dan tidak menunjukkan gejala selama lebih dari 12 hari sampai tiga bulan.

    "Kondisi ini disebut positive persistence," kata Erlina Burhan dalam diskusi 'Narasi Kesehatan Versus Kepentingan Ekonomi Politik Refleksi Penanganan Pandemi Covid-19 Selama 2020' yang diinisiasi Koalisi Masyarakat Sipil Pengendalian Tembakau, Jumat 29 Januari 2021.

    Lantas kenapa tes Covid-19 masih menunjukkan hasil positif? Erlina Burhan mengatakan bisa jadi alat tes tersebut mendeteksi virus yang sudah mati atau fragmen alias serpihan virus. Kendati yang terdeteksi adalah fragmen atau serpihan virus, penyintas Covid-19 tidak boleh kendur dalam menerapkan protokol kesehatan.

    Sebabnya, menurut Erlina Burhan, penyintas Covid-19 dapat terinfeksi kembali dalam waktu dua atau tiga bulan. Kasus seperti itu ditemukan pada Juni 2020 di Amerika. "Karena memang setelah terinfeksi, daya tahan tubuh terbentuk, tapi imunitas ini dapat hilang dalam waktu tiga sampai 12 bulan," kata Erlina.

    Baca juga:
    Sebab Asap Rokok dan Merokok Bikin Orang Mudah Terinfeksi Covid-19

    Erlina Burhan melanjutkan, setiap orang tetap harus memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan sesering mungkin agar terhindar dari infeksi Covid-19. Dokter Spesialis Infeksi Paru di Rumah Sakit Persahabatan ini menyampaikan, pemakaian masker bisa mencegah perpindahan virus hingga 80 persen. "Protokol kesehatan 3M itu dapat menekan resiko terjadinya perpindahan dan infeksi virus hingga nol persen," katanya.

    Hingga Januari 2021 jumlah infeksi Covid-19 di Indonesia mencapai lebih dari 1 juta orang. Angka ini, menurut Erlina Burhan, menyumbang satu persen jumlah populasi pasien Covid-19 dunia. Sejauh ini penanganan Covid-19, dia melanjutkan, lebih sibuk di hilir ketimbang hulu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H