Ayo Selalu Berpikir Positif, Manfaatnya Bikin Panjang Umur

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi berpikir/menimbang. Shutterstock.com

    Ilustrasi berpikir/menimbang. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Jangan pernah berpikir kita kurang sehat. Pasalnya, pemikiran demikian akan menyebabkan risiko lebih besar mengalami kematian dini alias pendek umur. Begitu menurut sebuah penelitian dan dilansir Independent. Cobalah selalu berpikir positif.

    Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Stanford di Amerika Serikat dan dipublikasikan di Health Psychology ini menunjukkan bagaimana pemikiran, perasaan, dan kepercayaan berdampak pada kesehatan dan bikin panjang umur. Dengan demikian, para ahli mengatakan kita harus memprioritaskan perasaan positif sama seperti berolahraga.

    "Temuan kami sejalan dengan semakin banyaknya penelitian yang menunjukkan bahwa pola pikir dapat memainkan peran penting dalam kesehatan," kata Dr. Alia Crum.

    Peneliti menganalisis survei dari lebih 60 ribu orang dewasa di Amerika Serikat dengan mendokumentasikan tingkat aktivitas fisik, kesehatan, dan latar belakang partisipan. Di salah satu sampel, para partisipan memakai akselerometer untuk mengukur aktivitas selama periode satu minggu.

    Baca juga: Berpikir Positif Selama Pandemi Corona, Yuk Saring Informasi

    Peneliti juga melihat catatan kematian dari 2011, yaitu 21 tahun setelah survei pertama dilakukan. Hasilnya ditemukan orang yang menganggap diri kurang aktif daripada yang lain, 71 persen lebih mungkin meninggal dalam masa tindak lanjut daripada orang-orang yang menganggap mereka lebih aktif daripada teman sebaya.

    Ini bukan pertama kalinya Crum bekerja untuk membuktikan hubungan antara pemikiran positif dengan usia meskipun dengan penelitian sejak 2007 menunjukkan manfaat kesehatan sebagian bergantung pada pola pikir.

    "Banyak usaha, terutama dalam kampanye kesehatan masyarakat, diarahkan untuk memotivasi orang untuk mengubah perilaku: makan lebih sehat, berolahraga lebih banyak, dan stres lebih sedikit," kata Crum.

    "Tapi sebuah variabel penting telah ditinggalkan, pola pikir orang tentang perilaku sehat tersebut. Sudah saatnya kita mulai mengambil peran pola pikir di bidang kesehatan dengan lebih serius," jelas Crum terkait berpikir positif..


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Macam Batal Puasa

    Ada beberapa macam bentuk batalnya puasa di bulan Ramadan sekaligus konsekuensi yang harus dijalankan pelakunya.