Daftar Peralatan Kesehatan yang Diperlukan Saat Isolasi Mandiri di Rumah

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasien OTG Covid-19 menerima kiriman makanan dari keluarganya disela menjalani senam pagi di Rumah Sakit Darurat (RSD) Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi, Jawa Barat, Rabu, 16 Desember 2020. Kegiatan senam dan pemeriksaan kesehatan tersebut rutin dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh pasien yang menjalani isolasi mandiri. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Pasien OTG Covid-19 menerima kiriman makanan dari keluarganya disela menjalani senam pagi di Rumah Sakit Darurat (RSD) Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi, Jawa Barat, Rabu, 16 Desember 2020. Kegiatan senam dan pemeriksaan kesehatan tersebut rutin dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh pasien yang menjalani isolasi mandiri. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebagian orang tanpa gejala atau OTG Covid-19 menjalani isolasi mandiri di rumah. Sebagian lagi ada yang isolasi di fasilitas pemerintah, seperti Wisma Atlet, sejumlah hotel yang menyediakan layanan isolasi mandiri, dan klinik.

    Dokter spesialis penyakit dalam, Sayuri Suwandi menyarankan pasien OTG Covid-19 tetap mendapatkan perhatian dari dokter selama menjalani isolasi mandiri di rumah. Pemantauan ini penting untuk mencegah kondisi pasien OTG Covid-19 tiba-tiba menurun.

    "Banyak kejadian orang yang isolasi mandiri baik bergejala maupun tidak bergejala, tiba-tiba drop," kata Sayuri dalam live Instagram akun Kawal Covid-19. Selain pemantauan dari dokter, Sayuri menyampaikan beberapa peralatan kesehatan yang sebaiknya tersedia di rumah saat menjalankan isolasi mandiri:

    1. Termometer
      Ukur suhu tubuh minimal dua kali sehari pada pagi dan sore atau pagi dan malam. Pengukuran suhu tubuh juga dapat dilakukan tiga kali sehari, yakni pagi - siang - malam. Buatlah kurva suhu tubuh untuk mengetahui grafiknya, apakah kian meningkat dan butuh penanganan medis lebih lanjut atau turun yang menandakan demam mulai reda.

    2. Oksimeter
      Oksimeter adalah alat pengukur kadar saturasi oksigen. Alat ini memantau apakah pasien memiliki kadar saturasi oksigen rendah tapi tidak merasa sesak. "Kalau punya oksimeter, bisa terlihat misalkan saturasi oksigennya sudah di bawah 95, ini harus hati-hati karena ada sesuatu yang salah. Normalnya di atas 95," kata Sayuri. Jika saturasi oksigen pada oksimeter menunjukkan angka kurang dari 95, segera hubungi dokter atau langsung ke rumah sakit.

      Apabila tidak memiliki oksimeter, pasien atau pendamping OTG Covid-19 harus mawas diri jangan sampai terjadi kesulitan bernapas. Indikasi kesulitan bernapas bisa berupa nyeri dada atau dada terasa tertekan ketika bernapas, bibir mulai kebiruan, ujung jari terlihat agak ungu. Kalau kondisi ini terjadi, segera cari pertolongan medis.

    3. Alat kesehatan lain sesuai kondisi pasien OTG Covid-19
      Bagi pelaku isolasi maandiri yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid, maka harus menyediakan peralatan kesehatan lainnya. Misalkan pasien OTG Covid-19 memiliki riwayat hipertensi, maka siapkan alat pengukur tekanan darah. Mereka yang punya riwayat diabetes, sediakan glucometer untuk mengevaluasi gula darah.

    Baca juga:
    Ahli di Unpad: OTG Bisa Lolos Rapid Test Antigen Covid-19


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H