Pembekuan Darah karena Covid-19, Bagaimana Pengobatannya?

Reporter

Ilustrasi kantong darah/golongan darah. Shutterstock

TEMPO.CO, Jakarta - Pembekuan darah sering terjadi pada kasus COVID-19 sebagai salah satu reaksi imun atau hasil peperangan saat antibodi melawan virus corona. Pengobatan bisa melalui pemberian pengencer darah sesuai prosedur dari Kementerian Kesehatan. Artinya pengobatan kasus pembekuan darah tidak bisa sembarangan, misalnya dengan memberi air minum banyak pada pasien seperti pendapat yang muncul di media sosial beberapa waktu lalu.

Pakar kesehatan yang mengambil spesialisasi jantung dan pembuluh darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia (PERKI), Vito A. Damay, mengatakan pasien bisa diberikan antikoagulan yang bertugas melarutkan kembali gumpalan darah yang berbahaya akibat peradangan infeksi pada pasien COVID-19. Ada dua jenis antikoagulan yang biasanya diberikan pada pasien COVID-19 yakni LMWH atau Low Molecular Weight Heparin dan Unfractionated Heparin.

Pemberian antikoagulan ini pun memperhitungkan risiko terjadi pengenceran darah yang juga mengikuti pengentalan darah. Tubuh orang yang terkena COVID-19 mengalami inflamasi virus corona baru menyebabkan koagulopati atau gangguan pembekuan darah.

"Koagulopati adalah istilah medis untuk gangguan pembekuan darah. Proses pembekuan darah ini menjadi kacau sehingga terjadi aktivitas berlebihan. Darah menggumpal dan terjadi thrombosis (penggumpalan darah) pada pembuluh vena (pembuluh balik) yang mengalir ke jantung," tutur Vito.

Lebih lanjut, gumpalan darah ini akhirnya menyumbat pembuluh darah jantung yang harusnya mengalirkan darah ke paru-paru. Akibatnya aliran dari jantung kanan ke paru-paru sangat berkurang atau tidak ada. Inilah alasan saturasi oksigen atau kadar oksigen dalam darah mendadak turun dan terjadi risiko kematian pada pasien.

Baca juga: Cegah Anemia dengan 5 Cara Berikut

Pakar hematologi dari the Sekolah Kedokteran Universitas Johns Hopkins, Roberts Brodsky, dan dokter spesialis pengobatan paru di Pusat Medis Johns Hopkins Bayview, Panagis Galiatsatos, mengungkapkan selain paru-paru, pembekuan darah termasuk yang terkait dengan COVID-19 juga dapat membahayakan sistem saraf. Menurut mereka, gumpalan darah di arteri yang menuju ke otak dapat menyebabkan stroke.

Beberapa orang yang tadinya sehat lalu terkena COVID-19 bisa mengalami stroke kemungkinan karena pembekuan darah yang tidak normal. Beberapa orang dengan COVID-19 juga dapat mengembangkan gumpalan darah kecil yang menyebabkan area kemerahan atau ungu pada jari kaki. Gejalanya bisa terasa gatal atau nyeri.

Parameter untuk memeriksa adanya gumpalan darah antara lain D Dimer dan fibrinogen. Semakin banyak pembekuan darah yang terjadi maka semakin banyak juga proses melarutkan bekuan itu yang akhirnya menyebabkan semakin tinggi pula D Dimer.

"D Dimer bagian dari penyakit COVID-19 yang masih menyimpan banyak misteri, salah satunya pembekuan darah yang kacau, merangsang proses keenceran darah. Maka, pemberian pengencer darah tidak boleh sembarangan," kata Vito.

Pembekuan ini berbeda dengan istilah kekentalan darah yang sebagian orang anggap bisa diatasi dengan meminum banyak air agar darah menjadi lebih encer. Pada kondisi darah mengental, misalnya saat seseorang dehidrasi, maka viskositas (kekentalan) dan osmolalitas (keseimbangan cairan dan garam tubuh) meningkat dan terjadi hemokonsentrasi. Mudahnya, disebut darah mengental dan ini berbeda dengan darah menggumpal atau adanya bekuan darah seperti pada kasus COVID-19.

Vito menyatakan tegas pendapat pria ini salah. Menurutnya, pengobatan standar sudah merujuk pada panduan pengobatan pasien COVID-19 yang diberikan Kementerian Kesehatan berdasarkan rekomendasi resmi para dokter termasuk spesialis paru, jantung dan pembuluh darah, penyakit dalam, anak, dan anestesi.

Jadi, berdasarkan paparan yang diungkapkan pada paragraf-paragraf di atas, pembekuan darah pada kasus COVID-19 memang dapat mengakibatkan pembekuan darah vena yang fatal dan tidak bisa diobati dengan minum air yang banyak. Di sisi lain, dia mengingatkan aktifnya pembekuan darah selain karena virus penyebab COVID-19 juga bisa diperparah kebiasaan sedenter atau tak aktif, misalnya rebahan.

Selain itu, waspadai kondisi obesitas. Pada mereka yang mengalami obesitas, di dalam tubuhnya terjadi peradangan kronis yang meningkatkan risiko terjadinya pembekuan darah.

"Kalau orangnya banyak rebahan, menyebabkan pembekuan darah semakin tinggi. Bahkan pada kasus bukan COVID-19, kebiasaan ini bisa menyebabkan pembekuan darah vena," tutur Vito.

Pasien COVID-19 yang menjalani perawatan di rumah sakit biasanya juga diinfus cairan saline NaCL 0,9 persen, kecuali bila dia mengalami kondisi lain. Komposisi cairan ini sama seperti pada tubuh sehingga mencukupi kebutuhan walaupun pasien lupa minum air.

"Sekali lagi, itulah fungsinya ada cairan infus diberikan agar mencukupi kebutuhan cairan harian, apalagi kalau lupa minum selama diopname," ujar Vito.

Vito menyayangkan ada pendapat di masyarakat yang menyebut pengobatan COVID-19 hanya cukup dengan banyak minum air bukannya dengan cara yang selama ini dilakukan para dokter. Pendapat ini bersumber dari seorang pria melalui video yang beredar beberapa waktu lalu.

Dia mempertanyakan alasan rumah sakit tidak mewajibkan pasien COVID-19 minum air. Ia lalu mengklaim penelitian menunjukkan pasien COVID-19 mengalami pengentalan darah sehingga diberi obat heparin dan aspirin. Padahal seharusnya pasien ini diberi minum air hangat.






Malaysia Tidak Lagi Wajibkan Pemakaian Masker di Pesawat

40 menit lalu

Malaysia Tidak Lagi Wajibkan Pemakaian Masker di Pesawat

Kementerian Kesehatan Malaysia mengeluarkan kebijakan baru tidak lagi mewajibkan penumpang menggunakan masker dalam pesawat terbang.


Sri Mulyani: Luka yang Disebabkan Pandemi Covid-19 ke Ekonomi Sangat Dalam

3 jam lalu

Sri Mulyani: Luka yang Disebabkan Pandemi Covid-19 ke Ekonomi Sangat Dalam

Sri Mulyani menjelaskan, masalah utama pandemi Covid-19 adalah terancamnya jiwa manusia.


Selalu Waspada Covid-19, Perhatikan Beda Gejala Batuk dan Flu Biasa

8 jam lalu

Selalu Waspada Covid-19, Perhatikan Beda Gejala Batuk dan Flu Biasa

Covid-19 dan flu memiliki gejala yang serupa, namun terdapat perbedaan antara keduanya. Perlu memperhatikan perbedaannya.


Daftar 14 Samsat Keliling Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi Hari Ini

1 hari lalu

Daftar 14 Samsat Keliling Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi Hari Ini

Polda Metro Jaya membuka layanan Samsat Keliling di 14 wilayah Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jadetabek) untuk hari ini.


Kanada Hapus Aturan Covid-19 untuk Pelancong

1 hari lalu

Kanada Hapus Aturan Covid-19 untuk Pelancong

Pemerintah Kanada mengumumkan akan segera mencabut semua pembatasan perjalanan Covid-19.


Batuk Berkepanjangan, Hati-hati Gejala Long COVID-19

2 hari lalu

Batuk Berkepanjangan, Hati-hati Gejala Long COVID-19

Pakar menjelaskan batuk kronik berkepanjangan hingga beberapa bulan dapat mengindikasikan penyintas mengalami long COVID-19.


Warga China Kritisi Kebijakan Nol Covid, Dorong Keterbukaan

3 hari lalu

Warga China Kritisi Kebijakan Nol Covid, Dorong Keterbukaan

Warga China minta para ahli epidemi berbicara dan pemerintah melakukan penelitian komprehensif dan transparan untuk meninjau kebijakan nol Covid.


Pemeritah Resmi Tawarkan ORI022: Mulai dari Rp 1 Juta, Kupon 5,95 Persen

3 hari lalu

Pemeritah Resmi Tawarkan ORI022: Mulai dari Rp 1 Juta, Kupon 5,95 Persen

Pemerintah resmi membuka penawaran ORI (Obligasi Negara Ritel Indonesia) seri ORI022 mulai hari ini, Senin, 26 September 2022 pukul 09.35 WIB.


CEO Pfizer Kena Covid-19 Lagi

4 hari lalu

CEO Pfizer Kena Covid-19 Lagi

CEO Pfizer Inc, Albert Bourla, pada Sabtu, 24 September 2022, mengumumkan positif Covid-19 untuk kedua kalinya.


Ketika Undangan Bela Negara Rusia untuk Orang yang Sudah Mati

4 hari lalu

Ketika Undangan Bela Negara Rusia untuk Orang yang Sudah Mati

Presiden Putin memerintahkan wajib militer bagi warga untuk berperang membela Rusia di Ukraina, tapi panggilan dinilai hanya untuk warga daerah miskin