Kenali Penyebab, Gejala, dan Bahaya GERD

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Asam Lambung.(TEMPO/Gunawan Wicaksono)

    Ilustrasi Asam Lambung.(TEMPO/Gunawan Wicaksono)

    TEMPO.CO, Jakarta - GERD tengah menjadi trending topik di Twitter. Buat penderita GERD, pasti sudah paham betul apa yang dirasakan ketika sedang kambuh. Badan lemas, kepala pusing, dada sesak dan panas, dan tenggorokan tidak enak.

    Dikutip dari RS Permata, Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah mengalir kembalinya (refluks) isi lambung ke esofagus karena cincin otot antara kerongkongan (esofagus) dan lambung melemah. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan GERD adalah:

    -Hernia hiatal, kondisi di mana bagian atas lambung masuk ke rongga dada melalui lubang diafragma (hiatus) yang dapat disebabkan oleh batuk, muntah, mengejan, atau aktivitas fisik tiba-tiba sehinga tekanan abdomen meningkat.
    -Pola makan, dengan pemicu beberapa makanan dan minuman, seperti cokelat, gorengan, makanan berlemak, atau minuman beralkohol.
    -Merokok
    -Obesitas
    -Kehamilan

    Baca juga: Radang Usus Kronis dan GERD Tak Sama, Pakar Jelaskan Bedanya

    Gejala antara gastritis dan GERD hampir mirip karena terdapat beberapa keluhan yang serupa. Namun, ada gejala khas yang paling sering dialami penderita GERD yaitu:

    Rasa nyeri terbakar di dada
    Rasa nyeri terbakar di dada merupakan nyeri dada atau rasa tidak nyaman yang berpindah dari lambung ke dada atau bahkan ke tenggorokan. Rasa nyeri dan terbakar bertahan selama 2 jam dan sering diperberat setelah makan dan berbaring, sedangkan posisi berdiri dapat memperingan gejala.

    Nyeri dada seperti terbakar dan tertindih dapat menjadi keliru dengan penyakit jantung atau serangan jantung. Perbedaan antara keduanya terletak pada kegiatan fisik di mana aktivitas dapat memperberat nyeri pada penyakit jantung dan istirahat dapat meringankan nyeri tersebut. Nyeri pada GERD tidak diperberat dengan aktivitas. Jika tidak dapat membedakannya, carilah bantuan medis segera jika terdapat nyeri dada.

    Regurgitasi
    Regurgitasi yang dirasakan, seperti makanan kembali lagi ke mulut, meninggalkan rasa asam dan pahit. Gejala tersebut dapat disertai dengan keluhan:

    -Perut begah (kembung)
    -Sendawa
    -Mual
    -Muntah
    -Sulit menelan, kerongkongan terasa perih
    -Penurunan berat badan tanpa penyebab yang diketehui
    -Sesak

    Penanganan GERD dapat dilakukan dengan:
    -Perubahan pola makan. Makanan yang sebaiknya dihindari para penderita GERD adalah cokelat, makanan berlemak, kafein, dan minuman beralkohol, jus dan buah jeruk, produk tomat, dan lada.

    -Mengurangi porsi makan dan makan lebih sering dapat membantu mengontrol gejala. Makan makanan paling lambat 2-3 jam sebelum tidur dapat meringankan refluks karena membiarkan asam lambung berkurang dan pengosongan perut terjadi secara bertahap.

    -Menurunkan berat badan pada pasien obesitas.

    -Hindari merokok

    -Baringkan kepala dengan bantal setebal 10 -15 cm.
    -Jangan menggunakan pakaian atau ikat pinggang yang terlalu ketat.

    -Konsultasi ke dokter untuk mendapatkan rekomendasi pengobatan.

    Penderita GERD dengan gejala yang berat dan kronik atau tidak berkurang dengan pengobatan mungkin membutuhkan evaluasi diagnosis lebih lanjut. Dokter menggunakan berbagai tes dan prosedur untuk memeriksa pasien seperti esofagram, manometri esofagus, monitor pH, endoskopi, dan biopsi.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.