Pentingnya Kolaborasi Antar Pihak Untuk Tingkatkan Nilai Ekonomi pada Sampah

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi tempat sampah. Foto: easy2buyusa

    Ilustrasi tempat sampah. Foto: easy2buyusa

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Pengelolaan Sampah, Direktorat Jenderal PSLB3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Novrizal Tahar mengatakan potensi pengelolaan sampah untuk mendukung perekonomian pun kian terlihat nyata selama pandemi. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik, sektor pengadaan air, pengelolaan sampah, dan limbah merupakan tiga dari tujuh sektor yang masih bertumbuh secara positif, yaitu 6,04 persen. Fakta ini merupakan kabar baik bagi pengelolaan sampah di Indonesia karena menggambarkan bahwa bidang pengelolaan sampah adalah sektor usaha yang terus menggeliat. "Oleh karena itu, melalui peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2021 yang mengusung tema ‘Sampah Bahan Baku Ekonomi di Masa Pandemi’, Pemerintah mendorong kolaborasi dari seluruh pelaku rantai nilai sampah menuju terciptanya ekonomi sirkular sebagai babak baru pengelolaan sampah di Indonesia,” kata Novrizal dalam keterangan pers yang diterima Tempo pada 18 Februari 2021. Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2021 diperingati pada 21 Februari 2021. a

    Ketua Kajian Ekonomi Lingkungan, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Universitas Indonesia Alin Halimatussadiah berpendapat agar mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata, perwujudan ekonomi sirkular harus melibatkan peran dan fungsi setiap pelaku rantai nilai sampah. Para pihak itu terdiri dari pemerintah, dunia usaha/industri, sektor informal, hingga masyarakat pada setiap siklus tahapan pengelolaan sampah. Kolaborasi bisa dari tahap pemilahan, pengumpulan, pengolahan dan pemrosesan akhir. "Pemulung memiliki peran sentral yang patut diperhatikan karena merekalah yang berjasa mengumpulkan sampah sebagai bahan baku yang mendukung industri daur ulang. Oleh karena itu, sudah saatnya kita melekatkan para pemulung ke dalam kesatuan rantai nilai pengelolaan sampah yang lebih utuh,” kata Alin.

    Baca: NasDem Kritik Pengelolaan Sampah di Hulu yang Sebabkan Banjir Jakarta

    Hal ini sejalan dengan hasil studi Unilever Indonesia dan Sustainable Waste Indonesia. Terungkap bahwa lebih dari 80 persen sampah plastik yang terkumpul di Pulau Jawa berasal dari pemulung, sedangkan 20 persen sisanya berasal dari bank sampah, Tempat Pengelolaan Sampah Reuse, Reduce, dan Recycle (TPS3R) dan penampung sampah plastik lainnya. Namun sayangnya, sebagian masyarakat kerap menyematkan stigma negatif kepada pemulung sebagai masalah sosial yang mesti segera diatasi sehingga kehadiran mereka kerap mendapatkan tantangan.

    PT Unilever Indonesia mendorong kolaborasi yang lebih erat dengan para pelaku rantai nilai sampah, khususnya para pemulung, yang selama ini menjadi salah satu tulang punggung terciptanya ekonomi sirkular. Melalui kerja sama dengan Perkumpulan Pemulung Indonesia Mandiri (PPIM), Unilever Indonesia mengusung semangat #MariBerbagiPeran dalam meningkatkan kualitas hidup serta kapabilitas para pemulung sehingga mereka dapat terus berkontribusi di dalam rantai nilai pengelolaan sampah.

    Nurdiana Darus, Head of Corporate Affairs and Sustainability PT Unilever Indonesia, Tbk. percaya bahwa plastik sebagai bagian tak terpisahkan dari keseharian memiliki tempat tersendiri di dalam ekonomi, dan tidak seharusnya tercecer begitu saja di lingkungan. Untuk itu, Unilever Indonesia dan PPIM luncurkan kerja sama baru yang menargetkan 3 ribu pemulung sebagai penerima manfaat dari rangkaian program edukasi dan pemberdayaan masyarakat. "Program edukasi antara lain meliputi: pelatihan literasi keuangan, keterampilan berkomunikasi, hingga perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang diharapkan dapat menjadi modal dasar bagi para pemulung untuk meningkatkan kualitas hidup mereka," katanya.

    Program Unilever Indonesia dan PPIM ini melanjutkan kerjasama kedua institusi yang berawal di tahun 2020 melalui penyerahan sarana mesin press sampah plastik untuk membantu meningkatkan nilai ekonomis sampah plastik yang kemudian dijual oleh para pemulung kepada para pengepul sampah. Semua orang memiliki peranan masing-masing untuk mewujudkan ekonomi sirkular. Dari mulai ruang lingkup terkecil yaitu keluarga dengan bijak menggunakan plastik dan memilah sampah dari rumah, para pemulung dan pelapak dengan mengumpulkan sampah, hingga pemerintah pada tatanan regulasi. "Sebagai pelaku industri, hingga tahun 2020, Unilever Indonesia bersama dengan para mitra telah berbagi peran dalam membantu pengumpulan dan pemrosesan lebih dari 13 ribu ton sampah plastik di seluruh Indonesia. Perjalanan kita masih panjang, untuk itu, #MariBerbagiPeran sayangi bumi,” kata Nurdiana.

    Prispolly Davina Lengkong selaku Ketua Umum PPIM menambahkan bahwa tantangan yang dihadapi oleh para pemulung semakin berat ketika pandemi. Mereka seringkali dianggap sebagai pembawa penyakit sehingga pekerjaan pun jadi terhalang. "Banyaknya pembatasan juga membuat mereka sulit bermobilisasi, belum lagi sebagian besar perumahan masih ditutup untuk mencegah penyebaran COVID-19. Untuk dapat terus menyambung hidup dan berkontribusi dalam mengurai permasalahan sampah, mereka membutuhkan dukungan dari kita semua,” katanya.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.