Antara Gula, Kental Manis, dan Kesehatan Gigi Anak

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi gigi susu. shutterstock.com

    Ilustrasi gigi susu. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Dosen Prodi Gizi Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta, Tria Astika Endah Permatasari, mengatakan konsumsi kental manis pada balita meningkatkan risiko kekurangan gizi, kurus, gizi buruk, stunting. Juga terdapat pula masalah kesehatan gigi dan mulut, karies gigi pada balita.

    “Juga risiko penyakit degeneratif yakni obesitas, diabetes melitus dan lainnya,” kata Tria.

    Sementara itu, ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Hananto, meminta para orang tua memperhatikan kandungan gula pada makanan anak karena tidak hanya berdampak pada gigi tetapi juga kesehatan tubuh anak.

    “Orang tua perlu memperhatikan kandungan gula pada makanan anak. Selain dampak negatif bagi tumbuh kembang anak, juga dapat menempel dan merusak gigi jika tidak dibersihkan,” ujar Hananto.

    Baca juga: Mengatasi Sakit Gigi Akibat Gigi Berlubang Pada Anak

    Makanan dan minuman yang tinggi kandungan gula seperti susu kental manis juga berdampak buruk pada kesehatan anak. Kandungan gizi kental manis jauh dari susu murni. Dalam setiap sendok kental manis, setidaknya terkandung 5,5 gram lemak jenuh yang memiliki dampak negatif bagi kesehatan. Selain itu, kandungan gulanya bisa sampai 15 gram per sajian.

    Kadar gula tinggi, selain dapat mempengaruhi kondisi gula darah juga menaikkan berat badan sehingga berpotensi menimbulkan obesitas.

    “Selain dampak negatif bagi tumbuh kembang anak, maka yang perlu diwaspadai adalah sisa susu yang mengandung gula tinggi menempel gigi bisa juga merusak jika tidak segera dibersihkan,” tambah Hananto.

    Untuk itu, para orang tua wajib memperhatikan kondisi gigi anak seusai mengonsumsi kental manis.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.